Selamat datang di gandok konversi djvu. Seperti pelangi yang bermacam warna, di gandok ini para cantrik dan mentrik selain ngunduh dan membaca lontar, juga akan mendapatkan hidangan berupa panduan untuk mengubah file dari format djvu ke format lain. Format dasar yang dibahas pertama kali adalah format teks (dalam hal ini MS Word). Dari teks ini, beberapa macam format dapat dihasilkan, bergantung kepada keinginan kita. Seperti: PDF, HTML, LIT dan lain sebagainya.
Sungguh, tidak ada maksud untuk menggurui para cantrik dan mentrik. Ini hanya sekedar berbagi apa yang kami ketahui. Mengupas bagaimana caranya, secara sederhana, proses konversi tersebut. Selangkah demi selangkah. Dalam tutorial ini, disertakan pula gambar-gambar yang diharapkan akan mempermudah para cantrik dan mentrik untuk memahaminya. Gambar-gambar yang merupakan hasil “capture” selama proses konversi ini.
Sebagai catatan, gambar-gambar yang ada dalam tutorial mungkin berbeda dengan tampilan pada layar komputer. Perbedaan ini bergantung kepada sistem operasi yang dipakai (XP, Vista, Windows 7 dll). Juga resolusi layar monitor.
![]() |
Alat bantu yang kita pergunakan untuk konversi ini adalah perangkat lunak ABBYY FineReader Version 9.0 Professional Edition, build 9.0.0.724. Perangkat lunak ini telah dibahas di halaman diskusi, sehingga untuk mengunduh perangkat lunak tersebut bukan suatu kendala. Selain itu, diasumsikan bahwa para cantrik dan mentrik telah mengetahui pengetahuan dasar komputer seperti: instalasi & menjalankan program, mengetahui folders, fungsi keyboards dan sebagainya.
Tutorial ini dibagi dalam dua bagian:
- Tingkat Dasar
- Tingkat lanjut
Langkah-langkah tingkat dasar:
(silakan diklik untuk menampilkan halaman yang bersangkutan)
- Pengaturan awal
- Membuka djvu file/menyimpan hasil OCR
- Mengolah FineReader dokumen
- Mengedit dan “check spelling”
- Menyimpan dan mempublikasikan hasil konversi
Langkah-langkah tingkat lanjut:
(sedang dipersiapkan)
- Pengaturan awal
- Pengunaan MS Word & MS Access/MS Excel
- Konversi ke PDF, LIT
Mudah-mudahan tutorial ini bermanfaat dan semoga lebih banyak lagi relawan yang menyumbangkan hasil retypenya
. Amin. Monggo.



selamat atas dibukanya gandhok baru.
jika ke depannya dikembangkan dengan tutorial-tutorial yang lain. saya yakin blog ini akan banyak dicari orang.
salam
suka s.
matur nuwun Ki. Mudah-mudahan Kita bisa berbagi ilmu disini.
Selamat siang
Suwun para bebahu padepokan
Bade nyantrik kanggo ngangsu kawruh perihal konversi.
Salam
Sugeng dalu,
semoga saya yang super gaptek bisa ikut ngangsu kawruh di bangsal ini.
matur nuwun Kisanak.
matur nuwun, mugi-2 ingkang nurunaken ngelmune meniko dibales ingkang sae dumateng Gusti. Amin.
Matur Nuwun, pundi tho PdLS-25nya?
terima kasih ilmunya, terima kasih kitabnya
terima kasih kitab pdls 25nya Ki Seno
WAh terimakasih Ki SENO kitabnya, sekaligus ngangsu kawruhlagi untuk ilmu barunya
Wah Ki Sunda, manteb banget, ini sangat berguna bagi para sanak yang rada gaptek. Terima kasih untuk pemadanganya…
matur nuwun rontal 25 sampun kaunduh.
Sugeng dalu Ki Seno, mugi2 tansah kaparingan berkah saking Allah.
waduuuh…
selamat ki sunda atas dibukanya gandok baru..
bener2 mantap dedikasi ki sunda untuk menolong para “kangtommy”..hehehe..
hebat..
semoga saya juga bisa belajar dari sini..
matur suwun ki..
ki sunda,
saya punya tips untuk “mempercepercepat kinerja” browser mozilla firefox. bolehkan diwedar di sini ?
nuwun.
Silahkan Ki. Untuk sementara bisa dipost disini.
Insya Allah nanti saya pindah ke halaman yang sesuai (Tips & Tricks).
Monggo. Hatur nuhun sebelumnya.
ki adestian,
sebaiknya diujicoba dulu sebelum dipublish.
============
tips:
mempercepat kinerja browser mozilla-firefox.
————
catatan:
- trik ini akan mempercepat “kinerja browser” mozilla-firefox.
- “kecepatan browsing” (download/upload) tergantung pada bandwidth koneksi internet.
————
persiapan:
- buka browser mozilla-firefox
- ketik/copy pada address bar “about:config”, enter/click (hilangkan tanda “”…”)
langkah 1:
- klik “filter bar” letaknya di bawah address bar
- ketikkan/copykan “network.http.pipelining”
- lihat hasil pada box di bawahnya
- double-click pada reference yang ada untuk mengubah dari false ke true.
langkah 2:
- ketik/copy: “network.http.pipelining.maxrequests” pada filter bar dan klik/enter
- double-click pada reference yang ada untuk mengubah angka/nilai yang ada.
- isi dengan 20
- anda bisa bereksperimen dengan angka lain
langkah 3:
- ketik/copy: “network.http.proxy.pipelining”
- double click pada reference untuk mengubah nilai dari false ke true.
langkah 4:
- ketik/copy: “network.dns.disableIPv6″ pada filter bar, click/enter
- double-click pada reference untuk mengubah nilai dari false ke true.
langkah 5:
- ketik/copy: “plugin.expose_full_path” pada filter bar, click/enter.
- double-click pada reference untuk mengubah nilai dari false ke true.
langkah 6:
- ketik/copy: “network.protocol-handler.external.ms-help”, click/enter
- “click kanan” pada reference, pilih “new”, interger
- ketik/copy: “nglayout.initialpaint.delay” pada interger bar, ok.
- masukkan nilai “0″ (nol), ok.
Langkah 7:
- ketik/copy: “network.protocol-handler.external.ms-help”, pada filter bar, click/enter
- “click kanan” pada reference, pilih “new”, “interger”
- ketik/copy: “content.notify.backoffcount”, ok
- ketik “5″, ok.
langkah 8:
- ketik/copy: “network.protocol-handler.external.ms-help”, click/enter
- click kanan pada reference, pilih “new”, “interger”
- ketik/copy: “ui.submenuDelay”, ok
- ketik “0″ (nol), ok.
penutup:
- tutup/matikan browser mozilla-firefox
- buka kembali mozilla-firefox
- bandingkan dengan sebelumnya.
semoga bermanfaat.
testimoni
berikut ini saya akan berbagi pengalaman selama belajar menggunakan abby finereader.
- file yang digunakan untuk contoh proyek adalah adbm-100.djvu (3.950kb)
- software: abby finereader pro edition 9.0.0.724.
- komputer rakitan jadul, pentium4, 3,2ghz, ram 4gb, vga card 256-ddr3, storage 2hd @320mb.
secara umum, abby finereader adalah program yang “top markotop”. bisa melakukan konversi secara langsung dari format djvu ke word, pdf, html dll, sekaligus melakukan editing.
beberapa hal yang menarik perhatian adalah:
- memerlukan tempat penyimpanan yang besar.
untuk membuka file adbm-100.djvu berikuran 3.950kb memerlukan waktu lama. demikian juga ketika menyimpan pekerjaan (save abby document). pada proses ini ternyata abby melakukan rendering seperti pada proses video editing. dan yang sangat mengejutkan, file yang dibuat berukuran sangat fantastis dibandingkan file asalnya. jika fila aslinya 3.950kb, maka file abby berbentuk menyerupai “directory” berukuran 550-megabyte. direktori itu di antaranya berisi 75 file halaman-halaman adbm yang dalam format tiff. paling kecil berukuran 7 mega-an dan yang terbesar 27 mega-an
- proses lama
ternyata komputer dengan spesifikasi seperti yang saya gunakan cukup ngos-ngosan membuka dokumen djvu, menyimpan dalam format abby, membaca hasil editan (reading), apalagi proses ketika converting ke format doc. ketika dipraktekkan dengan menggunakan laptop toshiba portege-m500 (core2duo-ram2gb), berkali-kali terjadi hang. akhirnya pindah lagi ke pc rakitan. sepanjang “dugaan saya”, agar pekerjaan lancar perlu ganti processor core-2-duo dan upgrade ram menjadi 8gb.
- mendebarkan
selama proses berlangsung, hati selalu gelisah dan berdebar-debar. kuatir kalau listrik tiba-tiba mati. jika hal ini terjadi, maka pekerjaan harus dilakukan dari awal lagi.
solusi alternatif:
- abbyy finereader tetap digunakan
- pecah file menjadi bagian-bagian lebih kecil. gunakan djvu-viewer untuk memecahnya. caranya setiap halaman yang dibuka di- “save page as”, sehingga menjadi beberapa halaman dengan nomor yang berurutan untuk memudahkan pelacakan. file-file itulah yang kemudian diedit dengan abby finereader.
- cara di atas telah saya coba, ternyata sangat enak, praktis, santai dan cepat. yang lebih penting lagi, tidak takut jika tiba-tiba mati listrik. kalau itu terjadi, pekerjaan yang hilang hanya 1-2 halaman saja.
semoga bermanfaat.
Hatur nuhun Ki, atas berbagi pengalamannya. Insya Allah sangat bermanfaat bagi retyper yang lain.
Mohon maaf jika kesulitan-kesulitannya tidak dipaparkan, karena mungkin tidak ada kesulitan yang saya alami.
Spesifikasi yang dipergunakan adalah: Toshiba Tecra A9, 3GB RAM dan Dell Inspiron 1525 4GB RAM.
OS: Windows 7
Insya Allah, pengalaman ini akan saya tambahkan pada tutorialnya.
ki adestian,
berikut ini adalah contoh hasil konversi, walaupun belum terlalu clean. hanya untuk menunjukkan bahwa tutorialnya abby finereader benar.
silakan dipindahkan ke tempat yang cocok.
===============
PELANGI DI LANGIT SINGASARI – 20
SH. MINTARDJA
NAFAS Kuda-Sempana tiba2 mendjadi sendat. Upah itu terlampau mahal baginja. Bagaimanapun djuga, tjundaka ada lah saudara seperguruannja. Apakah ia sampai hati untuk ber buat dengan demikian, bankan seandainja gurunja mengidjin kannja pula Sedjenak Kuda-Sempanapun se akan2 mendjadi beku. Dan suasana tertjengkam oleh kesenjapan jang tegang. Tiba2 dikedjauhan terdengar sebuah auman jang keras, disu sul oleh djerit jang me-lengking. Djerit seekor andjing hutan jang karena kurang hati2 telah diterkam oleh seekor harimau kumbang. Itulah kehidupan didalam rimba. Siapa jang kuat, maka ialah jang menguasai segenap keadaan tanpa memper hitungkan keadilan dan kabenaran.
Dan dibukit gundul itupun agaknja akan berlaku pula keadaan jang serupa.
Ketika Kuda-Sempana tidak segera mendjawab, maka ter dengar Wong Sarimpat mendesak — Bagaimana Kuda-Sem paria?
Dada Kuda-Sempana terasa mendjadi pepat. Ia dihadap kan pada keadaan jang sangat sulit. Dendamnja kepada Ma hisa Agni dan Ken Dedes terata terlampau sakit menghimpit , hatinja, tetapi untuk melepaskan himpitan itu ia harus mengor bankan saudara seperguruannja Alangkah mahalnja.
Dalam pada itu, mPu Sadapun mendjadi bimbang. Teta pi achirnja ia tidak dapat memilih, ketjuali mentjoba mclin dungi muridnja. Meskipun hatinja meng-umpat2 atas keter landjuran Tjundaka itu, tetapi adalah gila djuga apabila di biarkannja seorang muridnja kehilangan sebelah matanja dihadapannja. Namun sekali lagi ia ketjcwa atas snurid’nja itu, ketjewa kepada diri sendiri. Bahwa ia tidak dapat menempat kan murid’nja dalam satu ikatan jang kokoh seperti murid2 Bodjong Santi.
Kuda-Sempanapun tidak kurang meng-umpat2 didalaro hati. — Tjundaka memang gila. Ia tidak tabu perabaanku, sehingga ia ma’ahan se-olah1 meng-halang2iku. Kini aku ah jang dihadapkan pada suatu kesulitan. Kalau ia tidak berbu at gila, maka akupun tidak akan berdiri dipersimpangan dja lan jang sulit ini.
Mereka jang berdiri diatas bukit gundul itu kini benar dilanda oleh ketegangan jang semakin memuntjak. Kuda-Sem pana tegak seperti patung. Namun nafasnja mendjadi ter-enngah1. Sekali2 dipandangnja wadjah gurunja. Ia ingin mendapat na sehat dari padanja, tetapi gurunja masih djuga tetap berdiam diri.
Tjundaka sendiri sedjenak kehilangan kemampuan menim bang dan memperhitungkan keadaan jang dihadapinja. Tetapi kemudian ia berhaiil menenangkan dirinja. Kini ia telah pasti bahwa ketelandjurannja akan mendaangkan bentjana kepa dan;a Namun tiba? ia mendjadi tabah menghadapi bentjana jang betapapun djuga. Kalau ia sudah mampu menghindar kan dirinja, maka ia harus berani menanggung segala akibat dari perbuatannja. Dijalani hati ia berkata — Terserah kepa damu Kuda-Sempana. Tetapi ma’aku hanja dapat lepas ber sama njawaku.
Ketika Kuda-Sempana tidak segera berbuat sesuatu, ma ka kembali terdengar Wong Sarimpat berkata — He Kuda-Sempana, apakah kau djuga mendjadi bisu ? Ajo, djawablah.
Kuda-Sempana beaar2 mendjadi bingung. Kembali ia memandangi wadjah gurunja mentjari djawab atas pertanjaan Wong Sarimpat itu.
mPu Sada melihat kebingungan dihati Kuda-Sempana. Ia mendjadi sedikit bersenang hati, bahwa Kuda Sempana masih memerlukan untuk berpikir ketika ia harus melakukan Mesuatu jang dapat lebih menjakitkan hatinja. jaitu, berkelahi seiama murid nja. Karena itu, maka mPu Sada ah jang men djawab — Wong Sarimpat. Permintaanmu memang tidak maiuk akal. Nah, kalau demikian maka biarlah aku membe rikan tawaran. Beberapa potong emas Itu sadja. Mungkin Kuda-Sempana menipu nja i mata jang bagus, tetapi bukan mata orang. Mungkin ia mempunjai mata tjintj n batu akik jang berharga. Akik mata kutjing barangkali atau akik Wukir Gading jang kekuningan. Kalau kau tidak senang mata ba tu akik, mungkin kau senang permata intan atau berlian.
Suara mPu Sada patah ketika kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat. Katanja — Harga Mahisa Agni jang aku berikan tidak dapat di-tawar2. Ajo, kau tinggal sanggup atau tidak.
Tiba2 Wong Sarimpat terkedjut sehingga suara ter>awanja terputus. Bukan sadja Wong Sarimpat, tetapi djuga Kuda-Sempana. Dengan tegas mPu Sada mendjawab singkat — Ti dak. Aku tidak mau. Kita batalkan pembitjaraan kita.
— Guru — dengan serta merta Kuda-Sempana memotong — bagaimana mang tin guru Aku sudah memutuskan, Mahisa Agni harus tertangkap. Hidup atau mati. Aku lebih senang kalau ia dapat tertangkap hidup2.
— Tetapi harga itu ter’ampau mahal. Kalau kau masih berkeras bati untuk membunuh Mahisa Agni, maka berarti kau telah membunuh dua oaog sekaligus. Mahisa Agni dan saudara seperguruanmu sendiri. Nah. Pertimbangkan. Ketjua U Wong Sarimpat memberikan penawaran lain.
Kembali Kuda-Sempana terbungkam. Terasa sesuatu ber golak didalam dadanja Dan kembali ia meng-umpat2 dida la m hati.
Krdjsngkelannjaterhadap Kuda-Sempana semakin mening kat dan bahkai kemudian ia mendjadi muak melibat orang itu. Orang jang selama ini telah memperlemah tekadrja rocm balas dendam. Adalah omong kosong kalau Tjundaka jang menjebut dirinja Bahu Reksa Kali Elo itu kelak akan mam mampu melepaskan dendamnja terhadap Mahisa Agni dengan tangannja sendiri.
— Kenapa orang itu tidak mati sadja diterkam matjan ?
— desisnja didalam hati. Namun dengan demikian tiba2 djan tungnja serasa akan meleda’t ketika tumbuh pikiran didalam benaknja, kenapa orang itu tidak dibiarkannja mati sadja2 Kenapa gurunja menganggap Tjundaka sebagai tebusan jang terlampau mahal. 2 Ijuadaka itupun kini tidak berguna lagi baginja, sehingga seandainja anak itu mati. maka ia tidak akan merasa kehilangan Tetapi ia tidak berani mengatakan nja kepada gurunja.
Jang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat
— Kakang Kebo Sindet, bagaimana sebaiknja ? Permintaan kakang terlampau murah. Sebelah mata. Aku sekarang ingin menaikkan harga itu. Tidak hanja sebelah tetapi sepasang ma’a anak setan ini. Apakah kakang setudju.
Wadjah jang beku itu tetap membeku, se-olah2 Kebo Sindet tidak mendengar suara adiknja. Namun Wong Sarim pat itu berkata — Nah, ternjata kakang Kebo Sindet telah menjetudjui. Sepasang mata. Kemudian kepada Kuda-Sempana kau dengar kenaikan harga itu. ? Karena kau terlampau lama berpikir, maka kami terpaksa menaikkan harga. Kalau kemu dian kau tidak segera memutuskan maka harga itu akan naik lagi. Kau tinggal menjetudjui atau tidak. Kalau ternjata kau tidak mampu, maka biarlah harga itu kami ambil sendiri.
Kata2 itu benar2 menggetarkan hati. Dan udara digu nung gandul itupun tergetar ketika mPu Sada mendjawab tegas
— Tidak. Muridku adalah milikku. Aku tidak akan menje rahkannja. Aku belum gila segila kalian berdua.
Kembali mereka terdiam. Wong Sarimpat memandang wadjah mPu Sada dengan mata jang me-njala2. Kemudian sekali ia berpaling kepada kakaknja sambil berkata — Apa pula jang kita tunggu kakang.
Tiba2 terdengar suara Kebo Sindet datar — mPu Sada, Kenapa kau tidak dapat melakukan pekerdjaan ini sendiri?
Kenapa kau tidak dapat menangkap Mahiia Agni ? Apakah orang2 jang pernah kau sebutkan itu ‘selalu mengawaninja. ? mPu Purwa, mPu Gandring dan Pandji Bodjong Santi ?
mPu Sada tidak segera mendjawab, tetapi jang mendja wab adalah Kuda Sempana — Salah seorang da-i mereka pas ti ada disekitar Mahisa Agni atau Ken Dedes. Dan guru ha r j dah seorang diri.
— Tidak — potong mPu Sada — ada sebab2 lain. Se bab2 jang tidak dapat aku katakan disini.
Tiba2 wadjah Kebo Sindet jang beku itu bergerak. Ma tanja tiba2 mendjadi redup. Dan sedjenak kemudian terde ngar ia berkata — Kami berdua tjukup kuat untuk melaku kannja mPu, kau tidak kami perlukan lagi.
Kata2 Kebo Sindet itu bagaikan petir Jang meledak di dalam dada Kuda-Sempana. ia tidak tah’i pasti maksud orang berwadjah beku itu, namun terasa bahwa ada sesuatu jang kurang wadjar akan terdjadi.
Bukan sadja Kuda-Sempana, namun djuga Tjundaka ter kedjut sekali mendengarnja Meskipun ia djuga kurai g me njadari arti kata2 itu separti Kuda-Sempana, namun ia men djadi semakin muak melihat kedua orang liar itu.
mPu Sada sendiri mengerutkan keningnja. Ia terkedjut djuga mendengarnja, namun ia telah merabanja lebih dahulu, bahwa ia akan berhadapan dengan kemungkinan itu. Kemung kinan jang timbul karena kebodohan Kuda-Sempana. Kuda-Sempana telah mengatakan banjak sekali, bahkan terlampau banjak tentang Mahisa Agni, sehingga kedua orang itu telah mendapat gambaran jang hampir sempurna tentang anak muda itu.
Tjepat mPu Sada dapat mengikuti djalan pikiran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka pasti akan berbuat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mengetahui dari Kuda-Sempana bahwa Mahisa Agni selalu mondar-mandir antara padang rumput Karautan dan pad u ku h an Panawidjen untuk setiap persoalan. Mahisa Agai adalah satu’nja anak muda jang berani melakukannja. Dari Kuda-Sempana pu’a Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mendengar hubungan jang ter lampau rapat, terlampau rukun antara kedua saudara itu, Mahiia Agni dan Ken Dedes, meskipun Kuda-Sempana tahu bahwa keduanja adalah bukan saudara kandung. Kedua orang itu mendengar pula betapa Akuwu Tunggul Ametung sangat bernafiu untuk memperisteri Ken Dedes, bahkan me ngambilnja sebagai permaisuri.
— Hem — mPu Sada menarik nafas dalam’. Kemulian terdengar ia bertaaja — Kebo Sindet, apakah maksudmu se benarnja?
— Tjukup djelas bagi seorang seperti kau mPu.
— Tidak — sahut mPu Sada — kurang djelas bagiku, sebab aku t’dak biaia berpikir seperti kalian.
Kini wadjah Kebo Sindet telah membeku kembali. Dengan nada datar ia berkata – Tjukup djelas. Aku tidak memerlu kan kau. Tetapi aku djuga tidak mau kau ganggu.
— Kau keliru. Kau tak akan bisa menjelesaikan peker djaan ini tanpa aku.
— Kau berusaha menjelamatkan dirimu?
— Kenapa aku menjelamatkan diri? Apakah ada bahaja jang mengantjam aku?
— Djangan para1 tidak tahu. Aku tidak memerlukan kau dai aku tidak mau kau mengganggu untuk seterusnja. Djelas?
Tiba2 mPu Saia tersenjum. Sambil meng angguk2kan kepalanja ia berkata — Kau akan membunuh aku?
Kebo Sindet tidak segera mendjawab. Ditatapnja ma’a mPu Sada dengan tatapan mata serrakin lama mendjadi se makin tadjam. Hanja tatapan mata itulah jang dapat dibatja oleh mPu Sada, bahwa Kebo Sindet benar2 berusaha akan melakukannja.
Pertjakapan itu benar2 telah raenggontjangkan dada Ku da-Sempana. Ia benar2 tidak menjangka bahwa achirnja ia akan menghadapi keadaan jang sama sekali tidak di-sangka’nja; Ia tidak dapat mengerti kenapa Kebo Sindet tiba-tiba ing m menjingkiri an gurunja. Seandainja peisoaian itu dapat dixlakan oleh mereka sendiri, kenapa gurunja mesti harus disingkirkan ? Dengan demikian maka bergolaklah dada Ku da-Sempana itu, seperti beigo’aknja perut gunung berapi.
Jang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat menjambar telinga mereka seperti guruh dilangit – He mPu Sada. Kami telah tjukup mengerti apa jang harus kami laku kan. Karena itu kau bagi kami pasti hanja akan mendjadi perintang jang memuakkan. Mungkin kau akan berchianat dan bahkan mungkin kau sempat membunuh kami. Karena itu, maka kaulah jang harus kami singkirkan dahulu.
— Kenapa ? — bertanja mPu Sada. Orang tua itu masih tetap sadja berdiri dengan tenang — bukankah aku jang me merlukan kalian untuk pekerdjaan ini? Kenapa akulah jang mungkin mengchianatinja ?
— Kami bukan orang jang kau sangka berotak batu. — sahut Wong Sarimpat — aku tahu rentjanamu. Kami akan kau djerumuskan da’am persoalan jang tak tanggung2. Berha dapan dengan Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian kalau ren’jana itu berhasil, menangkap Mahisa Agni, maka kau akan menghadap Akuwu dan menundjukkan siapakah jang telah melakukan perbuatan itu. Dengan demikian maka kau akan bersih dari segenap tuduhan, karena sebelumnja kaulah jang telah membuat persoalan dengan Mahisa Agni karena muridmu, dan keuntungan jang lain, kalau kami kemudian tertangkap maka kau tidak perlu melepaskan sepotong emas pun untuk kami.
Sekali lagi mPu Sada menarik nafas da’am2. Sekarang disadarinja bahwa apa jang dikatakan mPu Gandrirg dan Pandji Bodjong Santi itu bukanlah suatu usaha untuk me-nakut2inja sadja. Meskipun diantar a mereka mPu Sada sendi rilah jang paling mengenal kedua orang itu karena ia pernah berhubungan sebelumnja. Tetapi kini, ia tidak berhasil mem pergunakan akan kedua orang itu.
mPu Sada itupun meng-angguk’kan kepalanja. Dengan tenang ia mendjawab — Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Djangan kau sangka bahwa akupun tidak tahu apa jang ka lian rentjaaakan. Bukankah kalian telah merata tjukup me ngetahui persoalan Mahisa Agni ? Itu adalah kesalahan Ku da-Sempana. Dan bukankah kalian berdua ingin menangkap Mah:sa Agni untuk tudjuan pemerasan? Mungkin kalian nae njangka bahwa dengan menjembunjikan Mahisa Agni, maka akulah jang akan mendjadi sasaran tuduhan itu. Sementara itu kau akan mendjual djasa, mengembalikan Mahisa Agni dan mengatakan bahwa kau telah membunuh mPu Sada. Kau mengharap Ken Dedes akan memberi kalian segerobag emas dan berlian, karena ia seorang permaisuri? — mPu Sa da itu berhenti sedjenak. Tiba1 ia tertawa sambil berkata — Tjobalah. Kau kelak pasti akan digantung di-alun2. Mahisa Agni tidak pernah terpisah dari orang2 jang tak akan dapat kau kalahkan.
Tetapi kata2 mPu Sada itu disambut oleh suara tertawa pula. Suara Wong Sarimpat. Djauh lebih keras dari suara ter tawa mPu Sada. Diantara suara tertawanja jang menggelegar itu terdengar ia berkata — Oh, apakah kau menghatap kami mendjadi ketakutan dan mengurungkan niat kami ? Kau salah mPu. Tekad kami telah bulat. mPu Sada harus disingkirkan. Mungkin dugaanmu mengenai rentjana kami benar.
mPu Sada masih mentjoba menguasai perasaannja. Ka tanja — Kau akui bahwa kau telah merentjanakan membunuh aku dan mentjoba melakukan pemerasan ?
Sebelum Wong Sarimpat mendjawab, terdengar suara Kebo Sindet — Otakmu memang tjermerlang mPu Namun karena itu maka kau harus kami tiadakan .
mPu Sada kini sudah tidak melihat kemungkiran lain. Meskipun ia masih kelihatan tenang2 sadja, namun hatinja benar2 mendjadi gelisah Murid2-njalah jang paling terantjam djiwanja. Apa lagi Tjundaka. Agaknja kedua orang itu sama sekali tidak senang kepada muridnja jang seorang ini, seperti djuga muridnja itu sama sekali tidak senang kepada kedua orang2 liar itu.
Kini suasana tiba2 mendjadi tegang. mPu Sada mentjoba untuk memuiatkan segenap daja pikiranja untuk menemukan djalan keluar dari kesulitan ini. Tetapi djalan itu tidak dili hatnja. Satu2-nja djalan adalah bertempur.
Tanpa disengadjanja orang tua itu berpaling memandangi kedua muridnja ber2ganti2. Kemudian menarik nafas dalam2. Lebih2 lagi. Ketika ia melihat Tjundaka jang berdiri tegak dengan tegangnja.
— Hem — katanja didalam hati — kasian anak ini. Mes kipun ia anak jang bengal, tetapi aku telah menjeretnja ke dalam kesulitan jang tak mungkin padat dihindarinja.
Tetapi ketika kemudian la melihat sinar mata muridnja jang menjala itu, hatinja mendjadi bangga. Katanja pula di dalam hati — Kalau kau mati anakku, matilah dengan wadjah tengadah.
mPu Sada itupun kemudian terkedjut ketika terdengar suara Kebo Sindet — mPu Sada. Kita sudah tjukup lama ber kenalan. Kita sudah pernah bekerdja bersama dan berhasil dengan baik. Karena itu marilah kita saling berbaik hati. Dja nganlah kita menjusahkan satu sama lain. Aku harap kaupun mengenal terima kasih kepadaku atas pertolonganmu dahulu, dan sekarang kau bersikap baik terhadap kami. Karena itu, maka sebaiknja kau tidak perlu mempersulit usaha kami mem bunuhmu dan mengambil sepasang mata muridmu itu.
Darah didalam tubuh mPu Sada terasa menggelegak. Di kedjauhan terdengar suara andjing liar menjalak ber-sahut2an.
Tetapi rupa2-nja perasaan Tjundakalah jang lebih dahulu meluap, sehingga tanpa dikehendakinja. kembali ia mengge ram.
Wong Sarimpat jang mendengar geram itu, berkata kasar — Djangan ter-gesa2. Waktu masih tjukup. Apakah terlampau terburu oleh keinginan untuk mentjoba hidup tanpa mata ?
Alangkah sakit hati orang jang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Namun setelah beberapa kali gurunja se lalu menggamitnja, maka kali inipun ia menahan mulutnja ■e-kuat2nja. Apalagi setelak ia mendengar pembicaraan guru nja dengan kedua orang liar itu, maka keben’jiannja mendja di semakin memuntjak. Meskipun demikian ia mendjadi ber debar2 pula. Agaknja ia tidak akan dapat keluar dari bentja na jang sudah membajang didepan matanja.
Da’am pada itu kembali terdengar suara Kebo Sindet — Bagaimana dengan permintaanku, mPu?
mPu Sada tidak mendjawab. Ia tahu benar, bahwa ia tidak dapat mentjari djalan untuk melepaskan dirinja Ia ta hu benar, bahwa jang seorang dari kakak beradik itu akan melawannja, dau jang seorang dengan mudahnja akan mem bunuh kedua muridnja. Sesudah itu, maka kedua orang itu ber-sama2 akan membunuhnja pula.
— Lttjik — geramnja didalam hati. Tetapi tiba2 dida lam hati mPu Sada itupun timbul pula tekadnja untuk mela wan kedua orang itu dengan tjara seperti jang ditempuh oleh mereka. Karena itu maka, meskipun mPu Sada itu masih sa dja berdiri sambil menundukkan kepalanja, namun kepalanja itu bergelora dengan dahsjatnja.
— Kebo Sindet — berkata mPu Sada — apakah tidak ada tawaran lain? Bagaimana ka’au kau sebut sadja misalnja kami harus membajar lebih dahulu supaja kami tidak menipumu?
Wong Sarimpat tertawa Djawabnja — Berapakah besar kemampuan mau membajar kami, mPu Sada. Ken Dedes ada lah seorang permaisuri Akuwu jang kaja raja. Beberapa po tong emas bagi mereka pasti tidak akan berarti apa2. Bah kan icte’ah kami berhasil merebut Mahna Agni daa membu nuh mPu Sada jang telah mentjulik Mahisa Agni itu, kami akan mendapat kedudukan jang ba>k. Kami akan mendapat hadiah tanah perdikan dan kami akan dapat hidup dengan tenteram untuk seterusnja. Tidak seperti hidup kami saat ini.
mPu Sada meng angguk’kan kepalanja — Djadi kau ingin kedudukkan dan harta itu dengan beralaskan kepalaku?
Wong Sarimpat tertawa terus — Ja — djawabnja.
Kepa’a mPu Saia mendjadi semakin tunduk. Kakinja tiba2 mendjadi gemetar seperti suaraoja jang gemetar pula
— Aku masih ingin hidup Wong Sarimpat. Apakah kau tidak kaiian melihat umurku jang sudah mendjadi semakin tua. Kau b’arkanlah aku beberapa tahun lagi, pasti akan mati sen diri.
Suara tertawa Wong Sarimpat mendjadi semakin keras
— He mPu Sada jang garang. Kenapa kau tiba1 mendjadi ketakutan be? Dimana namamu jang besar selama ini, jang mempunjai puluhan murid tersebar disegenap pendjuru Tuma pel, bahkan disetiap sudut Keradjaan Kediri?
mPu Sada melihat kegembiraan itu Wong Sarimpat agak nja mendjadi sangat bersenang hati, seperti melihat permain an jang baru pertama kali dimilikinja. Namun tiba2 suara tertawa itu terhenti. Terdengar sebuah keluhan pendek terlon tjat dari mulutnja. Wong Sarimpat jang bertubuh besar ke kar meskipun tidak terlalu tinggi itu terdorong kebelakang dan terlempar djatuh.
Betapa terkedjutnja semua orang jang berdiri diatas gutung gindul itu. Peristiwa itu sama sekali tidak mereka sangka’. Kebo Sindet, orang jang berwadjah majat itupun terkedjut b ikan buatan, sehingga djustru karena itu sedjenak ia terpaku diam. Ia mslihat mPu Sada dengan ketjepatan jang ha<apir tidak katat mata, melontjat, menghantam dada Wong Sarimpat jang sedang tertawa ter-bahak2. Ternjata mPu Sada telah melanggar kehormatan diri sebagai seorang sakti jang disegani. Ia tolah mulai menjerang sebelum musuh nja bersiap.
Da'am pada itu, Wong Sarimpat jang sama sekali tidak menjangka bahwa mPu Sada akan berbuat demikian, tidak sempat untuk mengelakkan diri atau menangkis serangan itu. Selagi ia terlena oleh kegembiraan hatinja jang se-akan2 membakar segenap dalanja ketika ia melihat mPu Sada ke takutan. Namun tiba2 terata se-aka22 Gunung Kawi runtuh menimpa dadanja.
— Tjukup — Tiba2 Tjundaka itu membentak. Wong Sarimpat benar terkedjut mendengar bentakan itu se bingga suara tertawanja terputus .
Kalau jang melakukan serangan itu Kuda-Sempana atau Tjundaka, bahkan keduanja sekahgui, maka Wong Sarimpat tidak akan dpt menggeser setapakpun dari tempatnja. Bahkan ia akan tertawa semakin keras. Tetapi jang menjerang dengan tiba2 sebelum ia bersiap itu adalah mPu Sada. Orang jang setingkat dengan Wong Sarimpat itu sendiri.
Dengan demikian maka Wong Sarimpat tidak dapat mentjegah ketika dirinja sendiri terbanting djatuh. Bahkan ke mudian serasa dadanja mendjadi peijah. Sekali ia mengge liat dan mentjoba untuk segera bangkit, namun ia memerlu kan waktu untuk melakukannja.
Tetapi mPu Sada jang telah merendahkan dirinja dengan litjik itu tidak berhenti dengan serangan itu. Selagi Kebo Sindet matih tertjeagkam oleh perasaan terkedjut, maka tong katnja telah terajun deras sekali. Hampir tidak senggang waktu dengan serangannja atas Wong Sarimpat.
Kebo Sindet jang terkedjut itupun tidak sempat meng hindar. Tetapi ia mampu bergerak tjepat pula. Dengan tangan nja ia menahan serangan mPu Sada jang menjambarnja setje pat tatit. Tetapi ternjata tongkat mPu Sada masih lebih keras dari tubuh Kebo Sindet jang hampir sekeras batu padas. Tongkat itu adalah tongkat mPu Sada: Tongkat seorang jang pilih tanding, sehingga tongkat itu bukan sekedar tongkat untuk mentjari dja'an dimalam jang gelap.
Terasa perasaan sakit jang sangat telah menjengat tangan Kebo Sindet. Seperti Wong Sarimpat ia mengeluh pendek. Tetapi jang terasa sakit pada Kebo Sindet hanjalah sebelah tangatinja, tangan kirinja, bukan dadanja seperti Wong Sa rimpat jang bahkan nafainja mendjadi semakin sesak.
Dengan demikian, maka perkelahian diantara mereka te'ah dimulai. Dimulai oleh sebuah serangan jang litjik, se hingga Kebo Sindet jang kemudian menjadari keadaan ber teriak marah sekali — He mPu jang gila. Kau ternjata tidak lagi merasa dirimu berharga untuk mendjaga kehormatanmu. Kau mulai dengan sebuah serangan jang litjik dan hina. Apakah kau tidak mengenal tata kehormatan dalam setiap perselisihan ?
mPu Sada kembali memutar tongkatnja, dan meluntjurlah sebuah serangan jang dahijat mengarah kedada Kebo Sindet. Kebo Sindet jang belum dapat menjesuaikan diri sepenuhnja itu segera melontjat mundur, namun tongkat mPu Sada me ngedjarnja. Sekali lagi Kebo Sindet terpaksa menangkis sera ngan itu dengan tangannja, dan sekali lagi terasa tongkat itu seperti menggigit tulangnja.
— Gila kau mPu Sada.
— Tidak ada tata kehormatan jang mengikat aku seperti tidak ada kebiasaan dan adat jang dapat mengikat kalian — teriak mPu Sada tidak kalah kerasnja. Suaranja bergetar da lam nada jang tinggi. Ternjata mPu Sada itupun telah diba kar oleh kemarahan jang achirnja meledak — mungkin aku berbuat tjurang dan litjik. Tetapi maaf, aku terpaksa mela kukannja. Aku tidak mau mendjadi bangkai makanan audjirig2 liar.
Da'am pada itu Wong Sarimpat telah berdiri diatas ke dua kakinja. Tetapi dadanja serasa akan petjah dan nafasnja se-akan2 telah menjumbat lubang2 hidungnja. Sekali ia ter hujung2, namun kemudian ia dapat menguasai keseimbangannja dengan mantap.
Tjundaka jang terkedjutpun kini telah menjadari apa jang terdjadi- Ternjata gurunja telah mulai Sudah tentu ia tidak akan dapat berpangku tangan. Meskipun ia bukan lawan jang berarti bagi Wong Sarimpat itu telah ter-luka didalam. Wong Sarimpat itu se-oleh2 telah mendjadi sa ngat lemah dan tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Karena maka nafsunja untuk melawan Wong Sarimpat jang kasar itu segera berkembang didalam dadanja.
Dengan serta-merta ia menarik pedangnja dan siap meng hadapi setiap kemungkinan.
Ia terkedjut ketika ia mendengar mPu Sada berteriak — Tjundaka dan Kuda-Sempana. Tinggalkan tempat ini. Tjepat. Kau hanja memenangkan perlombaan lari dengan Wong Sarimpat. Djangan mentjoba melawan.
Tetapi Tjundaka mendjadi ragu2. Ia melibat Wong Fa urrpat telah hampir mati. Apakah ia tidak akan dapat mem t'unuhnia dengan pedangnja itu. Ia tinggal menghundjamlan pedang itu kedada orang jang berdiripun hampir tidak mam pu itu berdiri kaku ditempatnja. Sedjenak ia bcnar2 kehilangan .ilal. Apakah jang harus dilakukannja ?
— Djangan gila — kembali mPu Sada terdengar berteriak.
Tetapi Tjundaka tidak segera pergi. Sekali ia mencandai g Kuda-Sempana dengan sudut mata nja. Namun Kuda Sempat a it,
Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet jang sedang btr kelahi dengan mPu Sada berkata – Wong Sarimpat, djangan kau bunuh Kuda-Sempana. Ia adalah arak muda jarg baik hati, djudjur dan mengerti apa sebabnja dilakukan Sajang djika djatuh ketangan mPu Sada jang litjik. Jang lain itu ter serahlah kepadamu. Aku hanja memerlukan sepasang matanja sadja.
mPu Sada tidak tahu pasti maksud Kebo Sindet dengan k.ita2nja itu. Mungkin ia benar2 ingin menangkap Kuda-Sem pana hidup2 sebagai orang jang dianggapnja tjukup mengerti tentang Mahisa Agni dan Ken Dedes. Apa'agi Kuda-Sempana dan Pu Sada tidak sempat berbitjara terlampau banjak, telah mengaku bahwa ia adalah pelajan dalam istana Tumapel, jang banjak mengetahui seluk beluk istana itu. Tetapi mungkin djuga dengan demikian Kebo Sindet hanja ingin mentjegah Kuda-Sempana supaja tidak melawan adiknja jang terluka itu ber-sama dengan Tjundaka dengan tjara jang litjik pula. Kebo Sindet ber-pura2 membiarkan Kuda-Sempana akan tetap hidup, namun apabila lawan jang lain telah bina'a, maka akan datang giliran pada anak muda itu. Karena itu maka mPu Sada itupun segera berteriak pula — Kuda-Sempana, djangan terpengaruh. Kebo Sindet hanja ingin mentjegah kalian bertempur berpasangan melawan Wong Sarimpat jang hampir mampus itu. Kalau kau ingin me'a wan lawanlah ber-sama2. Kalau sempat, lebih baik tinggal kan tempat ini. Semakin tjepat semakin baik.
Kini Kebo Sindet telah benar2 berada dalam keadaan jang mantap untuk melawannja. Namun tangan kirinja telah terlu ka. Teraia setiap kali tulang2nja seperti mendjadi retak kare na pukulan tongkat mPu Sada.
Kebo Sindet itupun kemudian tidak membiarkan dirinja haotjur dan tulang2nja patah oleh tongkat mPu tua itu. Ma ka dengan tangkasnja ia menarik goloknja jang besar dari rangkanja jang tergantung dipinggang.
Dengan demikian, maka sedjenak kemudian kedua orang itu telah terlibat dalam perkelahian jang sengit. Masing8 ada lah orang8 sakti jang sukar ditjari imbangannja.
Dalam pada itu Kuda Sempana masih berdiri dengan ra gu. Tiba8 ia teringat pada saat2 ia harus berkelahi melawan Mahisa Agni dibendungan, kemudian di Panawidjen. Namun keduanja ia terusir karena kekalahan jang dialaminja Kemu dian ia berhasil membunuh Wiraprana dan membawa Ken Dedes, tetapi ia harus berhadapan dengan Witantia. Setali lagi ia gagal. Dan ia kemudian terlempar dengan hinanja ke atas tangga serambi istana atas permintaan Ken Dedes jang ingin melepaskan sakit hatinja. Dengan demikian ma2 a ia ada lah seorang buruan.
Kuda-Sempana itu berdiri membeku ditempatnja. Ia me lihat Tjundaka telah siap dengan pedangnja. Namun sekali lagi ia mendengar kembali suara hatinja pada saat ia berke lahi melawan Witantra — Ken Dedes bagiku ada'ah lambang keteguhan tekadku. Kalau aku tidak mampu mempertaban kannja maka da'am persoalan" jang lain akupun akan selalu gagal.
Kuda-Sempana mendjadi semakin ragu8. Apakah ia akan tetap dalam pendiriannja itu meskipun dengan perubahan? Kini ia telah bertekad, kalau ia gagal maka lambang ke te guhan tekatnja itu akan dihantjurkannja sama sekali lewat kehantjuran jang akan dialami oleh Mahisa Agni. Orang jang paling dibentjinja.
Kuda Sempana tersadar ketika ia melihat gurunja dan Kebo Sindet tiba2 melontjat dekat dimukanja. Dengan serta¬merta ia melontjat mundur. Namun ketika ia telah tegak kem baii diatas kedua kakinja, maka ia masih sadja ditjengkam oleh kebimbangan. Kalau ia membiarkan perkelahian itu, maka berarti ia telah mengchianati gurunja. Tetapi kalau ia memihak gurunja dan ber-iama2 dengan Tjundaka mentjoba membunuh Wor.g Sarimpat, maka kembali ia akan mengalami kegagalan menghadapi Mahisa Agni.
Dadanja berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gurunja berteriak — Tjundaka. dangan gila. 2 Tinggalkan orang itu, atau berdua melawan ber-sama2. Djangan berbuat sendiri.
Tjundakapun mendjadi ragu2. Ia melihat Wong Sarimpat berdjalan ter-hujung2 kearahnja. Sekali2 orang itu meraba dadanja jang seraia petjah. Namun matanja masih memantjar kan kemarahan jang membara. Dengan udjung djari tangan kirinja ia menundjuk wadjah Tjundaka sambil berkata serak ter-sendat8 — Djangan lari tikus ketjil aku masih mampu m cm bunuhmu.
Tjundaka mundur selangkah. Tetapi pedangnja kini telah terdjulur lurus mengarah kedada Wang Sarimpat. Dada jang telah berhasil dilukai oleh mPu Sada.
Namun ketika Wong Sarimpat madju selangkah lagi, Tjun daka itupun surut pula se'angkah sambil berpaling meman dangi saudara seperguruanja, Kuda-Sempana.
Tetapi Kuda-Sempana itupun masih djuga ber-angan8
— Apakah kematian Tjundaka dan guru sendiri, akan meru pakan korban jang harus aku relakan untuk melakukan ren tjanaku ?
Sekali lagi Kuda Sempana mendengar gurunja berteriak
— Kau sudah terpengaruh oleh suara iblis ini Kuda-Sempa na. Djangan kau sangka bahwa kau akan mendapatkan apa jang te'ah mereka djandikan.
Kebo Sindet jang tangan kirinja telah terluka itu sempat djuga berka'a — Kasiau kau Kuda-Sempana. Mungkin kau tidak mengerti kenapa kami ingin membunuh gurumu. Sebelum gurumu ini aku singkirkan, maka kau tidak akan dapat mengingkari rentjana itu, sebab dibelakang semuaperbuatan iijn, tarieinbunji pamrih jang tidak kau ketahui. Aku akan uieiigiitakannjit kelak, apabila gurumu telah mendjadi bangkai.
Kata1 Kebo Sindet terputus oleh serangan raPu Sada jang memakin dahsjat. Tongkatnja sekali1 berhasil menjusup kedalam lingkaran gerakan pedang Kebo Sindet. Bahkan sekali2 tongkat itu berhasil pula menjentuh tangannja jang sakit, se hingga tulang2nja semakin lama terasa se-olah2 mendjadi se makin remuk, — Gila — katanja didalam hati — mPu tua itu t a- u benar, bahwa tanganku hampir patah.
Namun betapapun djuga, achirnja Kuda-Sempana menja dari, bahwa ia tidak dapat membiarkan guru dan saudara se perguannja. Betapapun ia mendjadi ragu2 tetapi terdengar ka a2 hatinja melondjak2 — Itu adalah gurumu.
Dengan mata jang tidak berkedip Kuda-Sempana melihat gurunja bertempur. Hilanglah segala kesan ketuaan mPu Sada Kini mPu Sada itu se-olah2 mendjadi seekor burung sriti jang sedang me-nari2 diudara,
Namun Kebo Sindet melawannja dengan tangkas. Golok nja berputar dan ter-ajun2 dengan dahsjatnja. Kekuatan orang itu benar2 mengagumkan. Golok jang besar itu dita ngannja, se-olah2 tidak lebih dari sebatang gelagah alang2
Pertempuran itu semakin lama mendjadi semakin seru, seperti pertempuran didalam dada Kuda-Sempana. Dalam ke-ragu2an ia mendengar gurunja berteriak dengan penuh ke tjemasan — Tjundaka. He, Tjundaka, apa kau sudah benar2 gila. Lari, lari tjepat.
Tetapi Tjundaka melihat Wong Sarimpat sudah hampir mati, Dengan sebuah sentuhan jang tidak berarti orang itu pasti sudah akan djatuh terlentang. Dan ia segera akan meng hundjamkan pedangnja didada orang liar itu. Betapa gurunja ber-teriak1 namun perasaan sombong didalam dadanja telah memaksanja untuk tetap berada ditempatnja, bahkan ia se sumbar didalam hatinja — He Wong Sarimpat. Betapa nista nja Tjundaka jang . bergelar Bahu Reksa Kali Elo, namun aku adalah laki2 djuga seperti kau. Sekarang, kenapa aku harus menghindarkan diri sedang kau sudah hampir mendja di bangkai?
Wong Sarimpat mendjadi semakin dekat. Dan Tjundaka masih mendengar gurunja berteriak. Tetapi ia ingin, ja ia ingin, bahwa ia berhasil membunuh Wong Sarimpat itu. Ka rena itu tiba2 Tjundaka itupun memekik tinggi. Dengan satu lontjatan jang garang ia . menjerang Wong Sarimpat dengan pedakgnja mengarah dada.
— Oh — terdengar mPu Sada mengeluh, kemudian kata nja — Nasibmu memang terlampau djelek Tjundaka.
Tetapi Tjundaka tidak mendengar. Ia sedang dimabuk kan oleh keinginannja membunuh Wong Sarimpat jang di sang.anja hampir mati karena luka didadanja.
Kuda-Sempana melihat serangan itu. Ia mendengar guru nja memerintahkan kepadanja untuk ber-sama2 dengan Tjun daka menghadapi Wong Sarimpat. Betapa ia masih dikuasai oleh kebimbangan, namun tangannja telah menarik pedang nja pula. Sekali ia melangkah madju, namun tiba! langkah nja terhenti. Matanja se -akan2 melontjat dari pelupuknja. Dengan mulut ternganga ia meneriakkan sesuatu, tetapi kata2nja tidak lagi dapat dimengerti.
— Sudah nasibmu Tjundaka — geram mPu Sada sambil bertempur.
Jang terdengar adalah suara parau Wong Sarimpat. Betapa luka menghentak2 dadanja, namun ia tertawa ter-bahak2. Ternja'a Tjundaka jacg mentjoba menusuk dada Wong Sa rimpat telah mengalami nasib malang. Dengan ketjepatan jang tidak di-sangka2 oleh Tjundaka, Wong Sarimpat berhasil menghindarkan dirinja. Tjundaka jang memastikan bahwa pedangnja akan menjentuh lawannja jang disangkanja sudah tidak mampu bergerak itu, terdorong oleh tenaganja sendiri. Tiba2 terasa sebuah tangan jang kuat menangkap lehernja Demikian kuatnja, sehingga terasa lehernja hampir terputus karenanja. Ketika sekali ia mentjoba meronta, maka terasa djari2 tangan itu se-olah2 menghundjam kedalam kulitnja dan ber-angsur2 tenaganja mendjadi kian lemah.
Dengan sisa tenaganja Tjunduka segera menggerakkan pedang jang masih berada ditangannja Ia melihat sepasang kaki jang renggang disampingnja Tetapi demikian pedangnja terajun, terasa kaki Wong Sarimpat mengenai pergelangannja sehingga pedangnjapun terlepas dan djatuh ditanah.
— Kuda-Sempana, tjepat berbuatlah sesuatu — teriak mPu Sada.
Kuda-Sempana madju pula se'angkah. Kini ia telah men tjabut pedangnja. Ketika ia melihat Tjendaka tidak berdaja maka timbullah perabaan iba didalam hatinja. Tjunduka itu telah pernah berusaha membantunja pula. Namun tiba2 kem bali Kuda-Sempana tertegun. Ia melihat Tjundaka jang tidak berbasil melepaskan tangan Wong Sarimpat itu mentjoba menghimpun kekuatan lahir dan batinnja Dalam kradaannja itu ia masih mentjoba membangunkan kekuatan adji Ka'a Bama. Demikian ia merasa siap dengan kekuatannja itu, rra ka sambil membungkuk karena tekanan tangan Wong Sarim pat, pada lehernja Tjundaka mcngajunkan tangannja merou kul lambung Wong Sarimpat. Namun Wong Sarimpat me njadari apa jacg akan terdjadi. Dengan kekuatan jang ada padanja, maka terkaman djari'nja itupun diperketat. Suatu kekuatan jang tiada taranja telah mendjalar di-djari'nja, se hingga Tjundaka itupun tiba2 mendjadi lemah seperti dile pasi seluruh tulang belulangnja.
mPa Sada jang melihat muridnja mentjoba membangun kekuatan terachir itupun berdesah — Tak ada gunanja.
Dan sebenarnjalah, ketika Wong Sarimpat melepaskan tangannja, maka Tjundaka itupun djatuh dengan lemahnja ditanah. Kekuatan jang telah mulai tumbuh dan mendjalari tangannja, tiba2 seperti dihisap oleh kekuatan jang tak dime ngertinja. Bahkan segenap kekuatan jang ada padanja.
Kini Tjundaka tidak lebih dari sehelai daun jang laju. Terasa betapa sakit segenap tubuhnja, dan betapa nafasnja
Demikian kuatnja, sehingga terasa lehernja hampir terputus karenanj». Ketika sekali ia mentjoba meronta, maka terasa djari2 tangan itu seolah2 menghundjam kedalam kulitnja dan mendjadi sesak Sekedjap ia menjesal bahwa ia tidak menu ruti natehat gurunja, namun sekedjap kemudian ia te'ah me nemukan kekuatan batinnja kembali. Adalah wadjar, bahwa dalam setiap perkelahian itu, salah satu pihak akan menga lami keka'aban. Mati adalah akibat jang telah dimengertinja sedjak per-taroa2 ia menggantungkan pedang dilambungnja Dan mati itu kini mengbatnpirinja. Karcra itu, da'am kele mahan, Tjundaka bahkan mendjadi tenang. Meskipun tenaga nja telah habis, namun ia masih sempat melihat gurunja ber tempur dan melihat Kuda-Sempana berdiri ter-mangu2 de ngan pedang ditangan.
— Mudah2an guru dapat membalaskan dendamku. — de sisnja. Suaranja per-lahan2 dalam nada jang sangat rendah. Tetapi mPu Sada mendengar kata2 itu. Hati orang tua itu pun menijadi sangat terharu ketika ia melihat muridnja pa srah kepada maut jang telah siap untuk memeluknja
Kuda-Sempana jang berdiri dalam kebingungan tiba2 tersedar bahwa ia sedang menghadapi bahaja jang sama be «arnja dengan bahaja jang telah menelan Tjundaka. Karena itu, maka segera ia mentjoba memusatkan perha'iannja ke pada udjung pedangnja dan kepada Wong Sarimpat. Ditin dasnja setiap perasaan ragu2 dan disingkiriannja setiap bara pan akan membalas dendam tergadap Mahisa Agni dengan a'at kedua orang liar itu. Meskipun harapan itu selalu sadja me-njentuh1 hatinja.
Kuda-Sempana itupun kemudian menggeretakkan giginja. Ia masih melihat saudaranja seperguruannja menggeliat. Dan sekali lagi Tjundaka itu mentjoba berkata — Aku sudah ti dak dapat membantu guru lagi.
Sekali lagi dada mPu Sada tersentuh. Murid itu diam bilnja, karena Tjundaka jang menjebut dirinja Bahu Reksa Kali Elo itu dapat memenuhi permintaannja. Dapat membe rinja berbagai aoatjam barang dan uang. Bukan karena suatu kejakinan bahwa muridnja itu akan dapat meneruskan tjabang perguruannja. Namun ketika ia melihat anak itu hampir ram pai pada adjalaja, maka hatinja melondjak. Kemarahannjapun mendjadi semakin menjala didalam dadanja. Tiba2 hati orang tua itu berkata — Ja, aku akan mentjoba membalaskan den danamu anakku.
Tiba2 mPu Sada itupun melenting meninggalkan lawan nja. Gerak jang tiba1 dan hampir tetjepat tatit melontjat di udara itu, tidak segera dapat diikuti oleh Kebo Sindet Na mun sebagai seorang jang telah dipenuhi oleh pengalaman maka segera Kebo Sindet dapat menangkap maksud mPu Sa da. Dengan lontjatar. jang pandjang Kebo Sindet mengedjar nja. Tetapi Kebo Sindet terlambat sekedjab. Tongkat mPu Sada telah terdjulur lurus kedada Wong Sarimpat. Alangkah terkedjutnja Wong Sarimpat jang sedang menikmati kemenang annja itu. Ketika ia melihat mPu Sada melontjat kra'ahnja, dan ketika ia roelhat tongkat orang tua itu terdjulur lurus kedadanja, maka ia mendjadi gugup. K atau dadanja tidak se dang terluka maka serangan itu sama sekali tidak akan mem bingur gkannja Ia mampu bergeiak setjepat mPu Sada Te tapi kini betapa sakit tulang2 iganja. Setiap goaknja pasti menumbuhkan rasa pedih pada isi dadanja itu. Namun ia tidak mau ma'i karena serangan itu. Betapapun lakitnja, tc tapi ia harus mengerahkan segenap kemampvtannja Karena ia tidak mendapat kesempatan untuk melontjat, maka satu2 nja tjara jang dapat menolong ija ada'ah mendjatuhkan diri Sementara itu ia mengharap kakaknja atan datang meno longnja
Demikianlah dengan serta-merta Wong Sarimpat mentjo ba mendjatuhkan dirinja mendahului tongkat mPu Sada. Mes kipun da lanja terluka, namun ia masih djuga mampu berge rak tjepat, sehingga dadanja terlepas dari dorongan tongkat orang tua itu. Tetapi mPu Sada tidak nsembiarkannja bebas sama sekali dari seranganeja lengan satu putaran ia merg hantamkan tongVatnja pada punggung lawanna Sekali lagi Wong Sarimpat terpaksa mentjoba menghindarkan diri dergan bergulir g ditanah. Namun la'i ini Wong Sarimpat jang su dah tidak mampu mempergunakan segenap kekuatannja itu tidak berbasil membebaskan dirinja sama setali. Sekali lagi ia terpaksa mengalami tjidera Kali ini lengannja telah ter kena tong'<at mPu Sada jg sedang mendjadi sangat marah itu.
Terdengar Wong Sarimpat mengumpat pendek. Perasaan njeri telah menusuk tulangnja, serasa tulangnja telah men djadi retak pula karenanja.
Namun dengan demikian, karena naf<u mPu Sada untuk m;.nbuauh Wong Sarimpat terlampau menguasai perasaannja, maka sedjenak ia mendjadi lengah, bahwa Kebo Sindet sedang mengedjarnja mPu tua itu mendengar Kuda-Sempa. a berte riak pendek dan terasa sebuah getaran menjentuh punggung nja. Tjepat ia melontjat kesamping sambil merendahkan diri nja. Kali ini ia berhasil menghindari sambaran golok Kebo Sindet, tetapi ketika golok itu terajun melampaui tubuhnja jang sedang merendah, terasa telinganja se-akan2 mendjadi petjah. Ternjata kaki Kebo Sindet berhasil menjambar kepala nja, menjentuh telinga kanannja. Untunglah bahwa Kebo Sindet tidak berhaiil mempergunakan sepenuh kekuatannja karena tarikan goloknja sendiri Meskipun demikian mPu Sada itupun terdorong selangkah dan djatuh terguling ditanah. Namun seperti singgat orang tua itu segera melenting berdiri. Tongkatnja masih tergenggam erat ditangannja. Tetapi kini kepa anja mendjadi pening. Bahkan serasa durr'a ini berputar disekelilingnja.
— Gila — orang itu mengumpat didalam hati. Ketika ia melihat Kebo Sindet menjerangnja kembali, maka semen tara orang tua itu hanja berhati' menghindar sambil mentjoba menenangkan dadanja.
Sementara itu Wong Sarimpatpun telah duduk kembali. Tepat disamping Tjundaka jang terbaring lemah. Betapa ke marahan Wong Sarimpat itu menghundjam djantungnja. Maka ketika tiba1 dilihatnja Tjundaka disampingnja, dengan serta merta ia merangkak dan menangkap leher orang jang sudah tidak berdaja itu. Dengan gigi gemeretak ia meaekankan sepuluh djari1 tangannja keleher Tjundaka jang tidak dapat melawannja sama sekali.
Kuda-Sempana jang melontjat dengan pedang ditangan ternjata terlambat. Tjundaka sudah benar1 mati ditjekik oleh Wong Sarimpat.
Ketika Kuda-Sempana kemudian siap menjerarg orang jang masih terduduk itu terdengar mPu Sada memperingat kannja — Djangan kau ulangi kesalahan saudatamu. Orang jang ha-npir mati itu mauh tjukup berbanaja bagimu.
Tetapi suara itu disusul oleh suara Kebo Sindet — Wong Sarimpat, djangan kau bunuh Kuda-Sempana. Aku bahkan ingin menolongoja, menangkap Mahisa Agni.
Setan — geram mPu Sada. Kini kepalanja sudah tida'i terla-npau pening ?agi. Namun telinganja'ah jang terata sakit bukan bua an Bahkan batinjapun mendjadi sangat pedih. Sa u muridnja meninggal dihadapan hrdungnja. Tetapi mu¬ridnja itu telah mendjadi korban kesomboi gan sendiri. Ia tidak mau mendengarkan nasehatnja.
Seruan gurunja, serta suara Kebo Sindet, kemtali telah merggar ggu perawan Kuda-Sempana. Ia kini kembali berdiri tegak seperti patung. Ia melihat Tjundaka terbunuh karena tidak mau mendengar nasehat gurunja Dan kini gurunja itu melarangnja pula untuk melawan Worg Sarimpat jang tam paknja sudah terlampau lemah Tetapi da'am pada itu ia men dengar Kebo Sindet mentjegah adiknja untuk tidak membu nuhnja.
Kuda-Sempana mendjadi bingung. Te'api bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak berlaku djudjur kini mulai terbajang dida'am benaknja, Karena itu n.aka Kuda-Sempa napun kini mulai menjadari betapa bodohnja dirinja sendiri. Dan ia ingin mentjoba menebus kebodohannja. Ia ingin me manfaatkan sikap Kebo Sindet atas adiknja Wong Sarimpat. Apabila ia menjerang Wong Sarimpat, maka Wong Sarimpat pasti tidak akan berani membunuhnya karena kakaknja tidak menghendakinja. Tidak seperti saudara scperguruani ja itu. Ke dua orang liar itu agaknja benar2 membentjinja meskipun me reka belum mengeralnja dengan baik. Apalagi kiri Worg fa rimpat telah mendjadi semakin parah.
Karena itu maka Kuda-Sempana tidak segera meninggal kan tenpat itu. Dari tjahaja obor jang masih menja'a meskipun kini tergolek diatas batu1 pada-, ia melihat betapa wadjah Wong Sarimpat jang tegang. Agaknja orang itu berusaha untuk menahan perasaan sakitnja.
Ketika api obor itu menjala semakin besar, maka Kuda Sempana melihat, betapa wadjah itu mendjadi sangat menge rikan. Wong Sarimpat itu menatap seperti ingin menelannja hidup2.
Tekad Kuda-Sempana telah bulat didalam dadanja. Ia mempunjai kedudukan jang berbeda dengan saudara sepergu ruannja dimata kedua orang2liar itu. Betapa Wong Sarimpat marah kepadanja, namun Kebo Sindet agaknja masih memer lukannja.
Namun kembali ia mendengar gurunja berteriak — Apa¬kah kau djuga akan membunuh dirimu Kuda — Sempana ?
Kuda — Sempana menggeram. Terasa dadanja bergolak. Apakah sudah sepantasnja ia melarikan dirinja selagi guru¬nja bertempur mati'an dan sesudah saudara sepeguruaonja itu mati?
Da'am ke-ragu2an itu ia melihat Wong Sarimpat berusaha untuk berdiri. Beberapa kali ia berusaha, namun setiap kali ia berhenti, mengatur pernafasannja dan mengusap dadanja Agaknja dadanja masih terasa sangat parah, disamping le-ngannja jang serasa mendjadi retak.
—Setan litjik – geramnja. Kemudian ditatapnja wadjah Kuda—Sempana sambil mengumpat — Kau setan pula. Ter njata kakakku berbaik hati kepadamu. Kalau tidak, maka njawamuakan melontjat dari ubun2mu spt demit ketjil ini.
Namun terdengar suara Kebo Sindet — Djangan kau takut2i anak itu Wong Sarimpat. Ia tidak bersalah. Gurunja lah jang gila dan saudara seperguruannja itu pula.—
Dada Kuda — Sempana berdesir. Namun ia sependapat dengan gurunja ketika ia mendengar gurunja berkata—-Apa¬kah kau dapat mempertjajainja Kuda — Sempana ? —
Kuda — Sempana tidak mendjawab, tetapi kepa anja mengangguk lemah-
Sementara itu Wong Sarimpat telah berhasil berdiri tegak. Ditelekankan kedua tangannja didadanja, dan dihisapnja na¬fas dalam1 beberapa kali. Sedjer.ak ia memusatkan segenap sisa1 kekuatannja. Dan kemudian terdengarlah ia berdesis.
Kebo Sindet dan mPu Sada masih djuga bertempur dengan sengitnja. Keduanja adalah orang1 jang djarang tan-dingannja. Maiing2 mempunjai kechususannja sendiri1. Namun terasa bahwa tangan Kebo Sindet jang terluka agak meng-ganggunja. Meskipun demikian goloknja masih dapat berpu¬tar seperti beliung2.
mPu Sada tidak kalah lintjahnja pula. Meskipun telinga nja mendjadi sakit, namun kekuatannja se-olah2 sama sekali tidak terpengaruh olehnja. Tongkatnja masih me-njambar2 dan sekali2 mematuk ketitik2 berbahaja pada tubuh Kebo Sindet.
Kuda — Sempana kemudian melihat Wong Sarimpat me ngangkat kedua tangannja tinggi2 sambil menghiiap udara se – banjak2nja. Se-akan2 seluruh udara diatas bukit gundul itu akan dihisapnja. Ber-kali2 dan kemudian terdengar ia ber desah lirih — Hem. Setan tua itu L arus binasa. —
Dengan penenangan itu ternjata Wong Sarimpat berhasil mengurangi perasaan sakitnja meskipun hanja sedikit. Namun karena kemarahan jang membara didadanja, maka ia tidak dapat membiarkan melihat kakaknja bertempur sendiri me¬lawan mPu Sada. Bagi Wong Sarimpat Kuda — Sempana sama sekali sudah tidak berarti lagi. Karena itu dibiarkan nja sadja ia berdiri tegak dengan pedang di-tangan.
Tetapi Kebo Sindet tidak ingin membiarkan Kuda-Sem pana itu. la tidak menghendaki anak itu dilepaskan sadja. Ia tidak akan membiarkan seandainja anak itu lari. Tetapi ia tidak dapat memberilah ukannja kepada adiknja. sebab dengan demikian, maka mPu Sada pasti segera mengetahui maksudnja pula.
Karena itu, maka Kebo Sindet itupun mendjadi gelisah. Tetapi ketika ia melihat Wong Sarimpat telah siap untuk ikut lerta dalam perkelahian itu, maka tumbuhlah harapan-nja untuk dapa2 menangkap Kuda Sempana hidup2. Ia mengharap anak muda itu bukan seorang pengetjut jg tjilik. Ia mengharap se – tidak2nja Kuda — Sempana mempunjai ke¬beranian seperti saudara seperguruannya.
Maka tiba2 berkatalah Kebo Sindet – He, apa jang akan kau lakukan Wong Sarimpat? —
Wong Sarimpat menggeram. Ia tidak mengerti kenapa kakaknja itu bcrtanja. Namun didjawabnja pula pertanjaan itu — Aku ingin memetjahkan dada mPu tua itu seperti ia melukai dadaku Tetapi aku bukan pengetjut spt. orang itu.—
mPu Sada tidak merasa perlu untuk mendjawab. Bahkan serangannja ah jang mendjadi semakin garang. Ia sama se¬kali tidak mendjadi tjemas melawan keduanja telah dilukai-nja sehingga mereka tidak dapat mempergunakan teraga mereka se-penuh2nja.
Meskipun denaik'an mPu Sada tidak dapat memperingan lawannja. Apalagi Kebo Sindet. Meskipun srqelah tangannja telah terluka namun tandangnja hampir tidak berbeda. Te¬tapi mPu Sada jang tele h mengetahui luka ditangan itu, se¬lalu berusaha untuk menjentuh nja dengan tongkatnja. mPu tua itu tahu betul, sentuhan jang keijil telah tjukup untuk membangkitkan perasaan sakit jang membakar seluruh tubuh Kebo Sindet itu:
Karena itu ketika Wong Sarimpat berdjalan ter-tatih2 mendekatinja, maka mPu Sada itu mendjadi semakin ber¬hati – hati.
Kuda—Sempana jang masih tegak seperti tonggak, me-1 hat Wong Sarimpat semakin lama mendjadi semakin dekat dengan kedua orang jang sedang bertempur itu. Meskipun tataran ilmu gurunja serta Kebo Sindet diatas ilmunja, na¬mun Kuda — Sempana dapat melihat bahwa Kebo Sindet jang terluka tangannja itu selalu terdesak oleh gurunja. Be¬tapa besar golok orang itu, dan betapa kuatnja ia mengge-rakkannja, namun setiap kali ia melihat orang itu menjeri¬ngai menahan sakit dan sekali dua kali melontjat surut utk menghindari serangan mPu Sada jang selalu berusaha me¬njarang titik kelemahan lawannja.
Sesaat kemudian Kuda — Sempana itupun melihat Wong Sarimpat melontjat menerdjunkan diri kedalam perkelahian itu. Alangkah terkedjutnja ketika ia melihat orang jang di sangkanja sudah hampir mati itu mampu melontjat dengan ketjepatan jang luar biasa. Serangannja datang seperti kilat me njambar dilangit. Tetapi ketika lawannja mampu menghinda ri serangan itu, maka kembali Wong Sarimpat berdiri ter-bungkuk2. Kedua tangannja menekan dadanja dan nafasnja se-akan2 Lampir putus.
Ternjata orang itu telah mengerahkan sisa2 tenaganja u n tuk tetap dapat mengimbangi lawannja. Meskipun kemudian luka didalam dadanja terasa sakit kembali, namun pada saat tertentu, karena nafsu dan kemarahan jang me-luap2, Wong Sarimpat telah berhasil meluapkannja. Sehingga serangan jang demikian itu tdk hanjasatu kali dilakukan oleh Wong Sarimpat. Setiap kali ia menjerang dan setiap kali pula ia menjingkir dari titik perkelahian untuk menenangkan dirinja.
Meskipun demikian, namun serangan2 Wong Sarimpat itu tjukup mengganggu mPu Sada. Setiap kali ia harus membagi perhatiannja. Bahkan serangan2 orang tampaknja telah hampir lumpuh itupun masih tjukup berbahaja.
Achirnja mPu Sadapun menjadari, bahwa tidak ada gu nanja lagi ia bertempur seterusnja. Kini ia tinggal mentjoba bertahan dan memberikan kesempatan Kuda-Sempana untuk menjingkir sebelum ia sendiri meninggalkan bukit gundul itu. Tetapi alangkah djengkelnja mPu tua itu ketika ia masih me lihat Kuda-Sempana berdiri sadja seperti patung,
— Kuda-Sempana, pergilah. — berkata mPu Sada.
Tetapi jang menjahut adalah Kebo Sindet — Wong Sa rinapat. Djangan putus asa karena luka2mu. Marilah kita bunuh mPu tua jang gila ini. Ia telahbanjak berbuat kesalahan tidak sadja atas kita. Namun lihatlah. Apakah ia telah mem bentuk muridnja itu dengan baik ? Menurut pendapatku
Kuda-Sempana adalah seorang anak muda jang tjukup berani. Tetapi gurunjalah jang mengadjarinja mendjadi pengetjut. Ba gi laki2, lari dari arena perkelahian adalah sifat jang se-hina2nja. Lebih hina dari serangan jang litjik jang dilakukan oleh mPu Sada itu sendiri.
— Djangan hiraukan — teriak mPu Sada sambil bertem pur — djangan hiraukan. Lari tinggalkan tempat ini. — ge ram Kebo Sindet.
— Kalau kau jang lari, Wong Sarimpat, meskipun kau sudah akan mati, maka kau akan aku bunuh sendiri.
Tiba2 Wong Sarimpat jang terluka didadanja itu melepas kan diri dari perkelahian. Terdengar ia mentjoba tertawa keras2. Tetapi suara itupun patah karena perasaan sakit jang menekan dadanja. Namun ia masih sempat berkata — mPu Sada telah mendidiknja berbuat demikian. Ternjata murid jang gila, jang kau kehendaki sepasang matanja itu lebih berani dari pada Kuda-Sempana.
Baik mPu Sada maupun Kuda-Sempana menjadari mak sud kata2 itu. Mereka tidak menghendaki Kuda-Sempana me ningga'kan perkelahian. Namun meskipun demikian, harga diri Kuda-Sempana tersinggung djuga. Itulah sebabnja ia masih djuga berdiri ter-mangu2 meskipun beberapa kali gurunja ber¬teriak2 mengusirnja.
Dalam perkelahian jang kemudian mendjadi semakin se ngit, Kebo Sindet sempat berkata kepada Wong Sarimpat per¬lah a n2 — Tangkap anak itu. Djangan sampai ia lari. Kau tidak akan dapat mengedjarnja karena lukasau.
Betapa Kebo Sindet mentjoba berbisik per-lahan2 sekali, tetapi telinga mPu Sada jang tadjam dapat mendengarnja. Karena itu sekali lagi ia berteriak — Lari Kuda-Sempana lari. Kau akan ditangkap hidup2 untuk permainan mereka ini. Permainan orang2 liar.
Karena perhatian jang ter-petjah2 itulah maka Kebo Sin det dan Wong Sarimpat berhasil menekan mPu Sada men dekati Kuda-Sempana. Wong Sarimpat jang terluka itu kadang2 tamasekali tidak mampu melontjat menjerang karena perasaan sakitnja, namun kadang2 apabila ia berhasil menga tasi pera<aan sakit dan berhasil menghimpun tenaganja maka luka didadanja itu se-akan2 sudah tidak berbekas.
Ketika titik perkelahian itu mendjadi semakin mendekati nja, maka Kuda-Sempanapun mendjadi semakin menjadari apa jang akan dihadapinja. Ia benar2 tidak dapat ikut dalam perkelahian itu, tetapi untuk meninggalkan gurunja, hatinja masih ragu2. Meskipun demikian, achirnja ia mengambil suatu kesimpulan — Lebih baik aku menjingkir Aku harap garu berhasil melarikan dirinja pula kemudian.
Ternjata gurunja jang benar2 menginginkan Kuda-Sempa na pergi telah mentjoba merendahkan dirinja agar muridnja tidak terlampau terikat pada harga diri pula, katanja — Kuda-Sempana, larilah selagi aku mampu menahan kedua orang liar itu, sesudah itu akupun akan melarikan diri pala. Tak ada gunanja lagi berurusan dengan orang2 liar ini.
Tak ada pilihan lain bagi Kuda-Sempana selain mening galkan pertempuran itu. Ia harus segera pergi, tidak tahu ke mana, asal sadja mendjahui kedua orang2 jang aneh itu.
Tetapi betapa terkedjut Kuda-Sempana ketika ia se-o)ah2 melihat kilat jang menjambar dihadapannja. Demikian tjepat aja sehingga ia tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Ketika ia telah mengambil keputusan untuk lari, maka ia te lah terlambat. Wong Sarimpat jang terluka itu tiba2 telah berdiri dihadapannja. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, tera sa tangannja jang memegang pedang bergetar, dan pedang njapun terpelanting djatuh ditanah.
Kuda-Sempana benar2 tidak mendapat kesempatan un , tuk berbuat sesuatu. Jang terasa olchnja adalah sebuah tekan an jang keras pada lengan kanannja. Ketika ia terputar, ma ka Wong Sarimpat telah menangkap tengkuknja. Sebuah te kanan jang keras ditengkuknja serasa sebagai daja jang kuat, jang telah menghisap seluruh tenaganja. Seperti Tjundaka, maka tiba2 Kuda-Sempana itu mendjadi lemah. Semakin la ma semakin lemah.
— Gila — terdengar mPu Sada berteriak. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Kebo Sindet jang telah bersiap untuk menghadapi tindakan adiknja itu dengan garangnja mentjo ba melibat mPu Sada, sehingga orang itu tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu.
Betapa djantung orang tua itu ditjengkatn oleh kemarah an jang memuntjak. Betapa dadanja se asa akan petjah. Te tapi semuanja itu sudah terdjadi. Ia menjesal tak habis'eja atas kedua muridnja jang sama sekali tidak mau mendengar kan nasehatnja. Tjundaka telah hangus dibakar kesombong annja sendiri, sedang Kuda-Sempana telah dibelit oleh ke-ragu2annja. Namun ke-dua2nja kini tidak dapat diharapkan nja lagi.
mPu Sada itu masih melihat Kuda-Sempana djatuh de ngan lemahnja. Sedang Wong Sarimpat, jang terpaksa menge rahkan sisa8 tenaganja jang telah lemah pula, berdiri sambil menekan dadanja Sekali ia batuk sambil ter-bungkuk2, na mun kemudian orang itupun djatuh terduduk ditanah.
— Kau akan mati pula — geram mPu Sada.
Tetapi Kebo Sindet mendjawab Tidak Kami menjim pan obat2an jang dapat raenjembuhkannja dalam waktu sing kat. Sajang obat'an itu tidak kami bawa. Tetapi ia tidak akan mati. Besok ia telah sanggup bertempur melawanmu se orang diri seandainja kau masih hidup. Tetapi sajang pula, bahwa kau akan mati malam ini seperti muridmu jang som bong. Sedang muridmu jang baik itu, biarlah aku mentjoba merawatnja. Mendjadikannja seorang djantan jang tidak akan dapat kau kalahkan seandainja kau sempat bertemu lagi.
mPu Sada tidak mendjawab. Ia melihat kesempatan un tuk mentjoba mendjatuhkan Kebo Sindet, selagi Wong Sarim pat sedang ditjengkam oleh perasaan sakit. Dengan menge rahkan segenap kemampuannja ia menjerang seperti seekor burung elang diudara. Me-njambar dengan tongkatnja, tangan nja dan kaki'nja. Namun Kebo Sindet masih mampu untuk menghindarkan dirinja dari setiap serangan jang betapapun berbahajanja.
Per-lahan2 Wong Sarimpat mulai dapat mengatasi pe rasaan sakitnja kembali. Per-lahan2 pula ia mentjoba berdiri. Dengan mata jang menjala ia memandangi mPu Sada jang sedang bertempur dengan kakaknja- Kemudian terdengar ia menggeram — Tinggal kau sekarang mPu tua. Ajo, menje rahlah supaja kemarahan kami tidak menjebabkan kami mem bunuhmu dengan tjara jang tidak menjenangkan.
mPu Sada masih berdiam diri. Bahkan serangannja men djaii semakin kuat. Namun ia bergumam didalam hatinja — Setan manakah jang telah bersembunji didalam tubuh Wong Sarimpat itu ? Meskipun ia sudah hampir mampus, namun ia masih djuga kuat uniuk berdiri dan bahkan ber tempur meskipun ia telah memeras tenaganja melampaui ke mampuannja jang sewadjarnja.
Dan naPu Sada itu mendjadi semakin geram, ketika ia melihat Wong Sarimpat berdjalan ter-tatih2 kearah mereka jang sedang bertempur matiVan itu. Kini goloknja, jang mirip dengan go'ok kakaknja te'ah digenggamnja pula. Meskipun nafasnja tersendat2 namun tanapaknja orang itu masih garang djuga.
Sekali lagi mPu Sada membuat perhitungan. Ia djuga tidak akan mampu mengalahkan keduanja dalam keadaan se rupa itu. Ternjata kekuatan tubuh Wong Sarimpat benar2 berada diluar dugaannja. Dalam keadaan serupa itu, ia masih djuga mampu mengganggu perkelahiannja dengan Kebo Sindet. Karena itu, maka tidak ada djalan lain baginja dari pada menghindarkan diri dari perkelahian itu. Kalau ia berhasil maka ia masih mempunjai kemungkinan untuk berusaha mem bebaskan Kuda-Sempana. Menurut perhitungan mPu Sada kemudian, Kuda-Sempana memang tidak akan dibunuh, se bab kedua orang itu masih memerlu kannja. Mereka mengha rap Kuda Sempana memberinja beberapa petundjuk ten'ang Mahisa Agni, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpatpun telah dapat menebak pula maksud mPu Sada itu. Karena itu maka ter dengar Kebo Sindet menggeram — Djangan mimpi kau ber hasil melepaskan diri mPu. Meskipun Wong Sarimpat telah kau lukai dengan (jurang, tetapi ia masih mampu berbuat sesuatu. Mungkin kau dapat mengalahkan kami satu2 karena ketjuranganmu. Tetapi mengalahkan kami berdua, atau men tjoba melepaskan diri dari kami berdua adalah sangat mustahil.
mPu Sada sama sekali tidak mendjawab. Tetapi ia memang m -lihat kesulitan itu. Wong Sarimpat jang lemah itu masih djuga dapat berbuat banjak untuk mentjegahnja meninggal ka? perkelahian. Namun bagaimanapun djuga mPu Sada ber uia'ia untuk melakukannja. Sedikit demi sedikit ia menarik perkelahian itu kesisi dataran gunung gundul jang tidak ter lampau lebar. Namua setiap kali kedua laki2 liar kakak ber aiik itu, selalu berusaha mendesaknja kembali k e-tengah.
Semakin dalam malam memeluk permukaan bukit gundul itu, pe-kelahian mereka mendjadi semakin sengit. Wong Sa rimpat jang dibakar oleh kemarahannja, ternjata mampu me lupakan lukanja pada saat2 tertentu, meskipun sekali1 ia ter paksa menjingkir untuk sesaat, memperbaiki keadaannja dan mengatur pernafasannja.
Tetapi keadaan mPu Sadalah jang semakin lama mendjadi semakin sulit. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berusaha dengan sekuat tenaga untuk membinasakan mPu tua itu. Orang itu akan dapat mengganggu usahanja. Rentjananja tentang Mahisa Agni telah matang didalam kepala Kebo Sindet, seperti jang ditebak oleh mPu Sada. Karena itu maka mPu Sada harus tidak ada lagi, supaja rentjananja dapat ber'angsung. Tetapi sudah tentu bahwa mPu Sada tidak akan menjerahkan kepa'anja, sehingga bagaimanapun djuga, dengan segenap kekuatan dan kemampuan jang ada orang tua itu berdjuang untuk mempertahankan hidupnja.
Namun djumlah kekuatan Kebo Sindet dan Wong Sa rimpat jang luka itu, ternjata masih lebih besar dati kekuat an mPu Sada, sehingga sekali terasa serangan2 kedua orang itu hampir1 dapat mentjapai maksudnja. Bahkan sekali1 terasa pada pakaian mPu Sada, seatukan2 udjung2 golok Kebo Sin det atau Wong Sarimpat.
— Setan belang — orang tua itu mengumpat didalam hati. Ia kini benar-benar sedang berusaha untuk melepaskan dirinja.
Namun ternjata bahwa serangan" kedua lawannja semakin lama mendjadi semakin garang. Batu2 padas dibukit gundul itu benar2 tidak menjenangkan bagi kaki mPu Sada. Bahkan terasa beberapa kali kakinja terantuk oleh udjung2 padas jang mendjorok. Tetapi bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tanah itu merupakan tanah tempat mereka bermain setiap hari sehingga udjung 2 batu jang runtjing tadjam sama sekali tidak mempengaruhinja.
Ketika mPu Sada sekali lagi mentjoba melontjat surut, maka tanpa di-sangka2nja kakinja tergores oleh sebuah udjung batu padas sehingga sesaat ia ter-hujung2. Namun dengan tang kasnja ia melontjat dan memperbaiki keseimbangannja. Tetapi jang sesaat itu benar2 dapat dipergunakan oleh Kebo Sinde2. Dengan garangnja ia melontjat mendjulurkan sendjatanja lurus2 kedada lawannja Tetapi sekali ini mPu Sada masih mampu menghindarinja. Dengan lintjahnja ia mengelak kesamping sambil merendahkan diri. Namun sajang, bahwa Wong Sarim pat dengan mengerahkan segenap sisa2 tenaganja masih mampu raenjusulnja.. Sebnah ajunan jang keras mengarah kelambuiig mPu Sada.
Orang tua itu terkedjut. Tak ada djalan lain daripada mendjatuhkan dirinja. Dengan demikian maka dengan serta merta ia mendjatuhkan diri dan berguling beberapa kali. Te rasa udjung2 batu padas telah melukai kulitnja. Namun sama sekali tidak dihiratikannja. Jang mengedjutkannja pula ada'ah, ketika ia melenting berdiri, Kebo Sindet telah siap menjerang nja dengan sebuah tebasan langsung kelehernja.
mPu Sada tidak dapat menghindarkan dirinja. Jang dapa2 dilakukan adalah melawan serangan itu dengan tongkatnja. Te tapi ia tidak dapat menangkis tadjam golok lawannja dengan tongkatnja. Untunglah bahwa tongkat orang tua itu tjukap pandjang, sehingga dengan serta merta didjulurkannja tongkat nja mengarah ke pergelangan tangan Kebo Sindet.
Dengan garangnja ia melontjat mendjulurkan sendja tanja lurut2 kedada lawannja. Tetapi sekali ini mPu Sada masih mampu menghaindarinja dengan lintiabnja ia me ngelak kesatnping sambil merendahkan diri, namun sajang . . .
Terdjadilah sebuah beaturaa jang dahsja'. Benturan jang tidak langsung diantara kedua sendjata mereka. TJd.ung tong kat mPu Sada ternjata berhasil mengenai pergelangan tangan Kebo Sindet jang sedang terajun dengan derasnja. Terdengar Kebo Sindet berteriak pendek. Tulang pergelangannja terde ngar gemeretak se-akan2 terpatahkan. Goloknja jang terajun itupun terlepas dari genggamannja. Namun karena itu, kare na golok jang terlepas itu, maka mPu Sadapun tidak meng hindarkan dirinja lagi. Golok itu dengan tjepat menjambar nja. Untunglah bahwa sambaran golok itu tidak tepat mecge nai lehernja. Tetapi terasa sebuah goresan jang pedih menji Iang dadanja, sehingga orang tua itupun terdorong beberapa langkah surut dan kemudian djatuh terguling ditanah.
Tetapi Kebo Sindet tidak dapat segera mengedjarnja. Ta ngannja jang terkena tongkat mPu Sada itu benar2 telak me lumpuhkan segenap kemampuannja. Sambil berdesis menahan sakit ia berdjongkok daa mentjoba menahan sakit itu dengan tangannja jang lain. Tetapi lengannja jang lainpun le'ah ter luka.
— Gila — geramnja. Hampir2 ia berteriak kepada Wong Sarimpat supaja ia berbuat sesuatu atas mPu Sada. Tetapi dilihatnja kemudian, Wong Sarimpat itu sedang ter-batuli.2 sambil menekan dadanja. Ternjata setelah ia memeras tena ganja pada saat'2 terachir, menjerang mPu Sada dengan sisa8 kemampuannja jang ber-lebih2an, terasa dadanja se-akan2 meledak. Betapa sakitnja.
Kebo Sindet jang sudah bertekad untuk membunuh mPu Sada itu tidak dapat berdiam diri. Betapa perasaan njeri mem bakar segenap tubuhnja, namun dengan kemampuan 'ang me njala2 ia berusaha untuk melupakan perasaan sakitnja. De ngan gigi terkatub rapat2 ia berdiri. Tangan kirinja jang ter luka pada lengannja, masih memegangi pergelangan tangan kanannja jang retak. Tetapi mPu Sadapun telah terluka. De ngan geramnja Kebo Sindet berkata — Aku masih menipu njai sepasang kaki jang utuh. Aku akan membunuhmu dengan kakiJku.
Namun mPu Sada itupun tidak pingsan. Ia masih tetap sadar betapapun pedih luka didadanja. Ia masih djuga melihat samar2 didalam tjahaja obor jang hampir padam, Kebo Sin det datang mendekatinja.
Tetapi untuk melawan, agaknja mPu Sada sudah tidak mungkin lagi. Karena itu, maka satu2nja tjara untuk men jela matkan diri adalah pergi meninggalkan kedua lawannja.
Meskipun tulang2 tua didalam tubuh mPu Sada itu sera sa telah habis dilolosi, namun ia masih mampu merangkak agak tjepat mendjauhi bajangan Kebo Sindet jang samar2 ma dju setapak demi setapak.
— He, kau akan lari mPu tua? — geram Kebo Sindet.
mPu Sada tidak mendjawab. Ter-tatih2 ia mentjoba ber diri, untuk melarikan diri. Tetapi tubuhnja serasa seratus ka li lebih berat dari tubuhnja jang biasa. Karena itu kembali mPu Sada itu merangkak se-tjepat2 ia dapat menghindarikan diri dari tangan Kebo Sindet jang telah dilukainja.
Kebo Sindet menggeram sambil menggeretakkan giginja. Kini ia benar2 menahan segenap rasa sakitnja. Ia harus dapat menangkap mPu Sada Keadaan telah terlandjur mendjadi sangat buruk, sehingga apabila orang itu terlepas dari tangan nja, maka rentjananja pasti akan teranrjam, meskipun belum tentu mPu Sada segera berani
pdls-20 — sambungan —-
menghubungi Mahiia Agni apalagi Tunggul Ametung karena pertentangan mereka di-saat2 jang lampau. Belum pasti pula Mahisa Agni atau Tung gal Ametung mempertjajainja, seandainja mPu tua itu men tjoba mengatakan apa jang sebenarnja telah terdjadi. Namun meskipun demikian, maka sudah tentu Mahisa Agni akan men djadi lebih ber-hati2. Orang2 jang dapat mendjadi pelindung njapun akan semakin ketat mengawasinja.
Tetapi seperti djuga Kebo Sindet, mPu Sada te’ah men tjoba memeras segenap sisa2 kekuatannja untuk hidup. Apa bila ia tetap hidup, maka ia akan dapat membuat perhitung an di-saat2 jang akan datang dengan kedua orang itu. Te tapi kalau ia gagal mempertahankan hidupnja, maka ia akan mendjadi kerangka dibukit gundul ini. Dagingnja pasti akan habis di-kojak2 oleh andjing2 liar.
Karena itu, betapapun ia tetap beruiaha untuk merang kak pergi. Sekali2 ia mentjoba berdiri bersandar pada tong katnja dan berdjalan ter-tatib.2. NamunHcembali ia harus me rangkak karena luka didadanja. Luka karena goresan pedang pada kulit dan daging dadanja. Luka jang berbeda dengan luka jang diderita oleh Wong Sarimpat. Meskipun akibatnja hampir bersamaan. Namun dari luka mPu Sada itu darah mengalir tak henti2nja. Meskipun orang tua itu men’joba sekali2 menahan nja dengan kainnja. Ditambah pula rasa sakit pada telinganja.
Ketika sekali ia berpaling, dilihatnja Kebo Sindet telah mendjadi semakin dekat. Dan bahkan ia mendengar orang liar itu berdesis dalam nada jang berat parau — He, kema nakah kau akan lari mPu tua. Djangan membuang tenaga di saat Z mendjelang mati. Tenangkan hatimu, supaja njawamu tidak ter-sendat2 diudjung ubun2mu.
Kebo Sindet itu sudah semakin dekat. Beberapa langkah lagi orang itu akan dapat mentjapainja. Tetapi seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mPu Sada bukan orang jang mudah menjerah pada keadaan. Ketika ia melihat Kebo Sindet menggeram dan melontjat menerkamnja, maka mPu Sada itupun se-akan2 telah dapat melupakan perasaan sakitnja. De ngan serta-merta orang tua jang terluka itu tegak.berdiri. Disambutnja serangan Kebo Sindet dengan ajunan tongkatnja. Kebo Sindet tidak menjangka bahwa mPu Sada mampu ber buat demikian. Karena itu, selagi ia meluntjur dengan deras nja, menjerang mPu jang terluka itu dengan kakinja, ia tidak dapat lagi menghindari tongkat itu. Sekali lagi terdjadi ben turan diantara mereka. Kaki Kebo Sindet benar2 telah me ngenai sasarannja, menghantam lambung mPu Sada. Tetapi Kebo Sindetpun kemudian terpelanting djatuh, karena tongkat mPu Sada telah menghantam pelipisnjo. Namun untunglah bahwa kekuatan mPu Sada tidaklah sepenuh kekuatannja, se hingga pelipis Kebo Sindet tidak mendjadi retak karenanja.
Tetapi mPu Sada jang lemah itu ternjata terdorong tidak sadja satu dua langkah. Beberapa langkah ia terlempar surut dan bahkan kemudian djatuh terguling.
mPu Sada jang terluka itu sama sekali tidak mampu me nahan dirinja ketika tiba2 terasa, se-akan2 tanah tempat ia ter-guling itu runtuh. Terasa olehnja se-akan2 ia terlempar ketempat jang tidak diketahuinja. Betapa derasnja ia meluntjur. Barulah kemud’an ia menjadari bahwa ia telah terguling ke dalam djurang. Barulah kemudian ia merasa, bahwa ia telah tar-gores2 oleh batu2 padat dilereng bukit gundul itu. Namun beberapa saat kemudian, terasa tubuh itu tersentuh dedaunan dan kemudian ranting2 perdu. Dengan demikian maka ladju tubuh orang tua itu mendjadi berkurang. Dilereng bagian bawah dari bukit gundul itu terdapat berbagai tumbuh 2an jang dapat menahan tubuh itu» sehingga tidak terbanting pada batu2 padas jang mendjorok tadjam.
mPu Sada itu masih tetap menjadari keadaannja. Tong katnja masih belum terpisah dari tangannja, sedang tangannja jaag lain berusaha untuk mentjapai apa sadja jang dapat memperlambat tubuhnja. Namun meskipun demikian, ketika terasa se-akan2 tubuhnja itu membentur sesuatu, pandangan mata orang tua itu mendjadi ber-kunang2. Sekedjap ia kehi langan kesadaran. Jang dilihatnja seolah? seluruh bintang gemintang dilangit meluntjur menimpa dadanja. Kemudian gelap pekat.
Diatas bukit gundul itu Wong Sarimpat berdjalan ter bungkuk-bungkuk kearah sesosok tubuh jang terbaring diam. Ternjata Kebo Sindet jang tertimpa tongkat pada pelipisnja itupun mendjadi pingsan. Betapa perasaan sakit telah melenjap kan segenap kesadarannja. Perasaan sakit pada pelipisnja itu dan perasaan sakit pada kedua belah tangannja jang ter timpa tubuhnja sendiri ketika ia terpelanting djatuh.
— mPu gila — Wong Sarimpat meng-umpat2. Sambil ter-batuk2 ia me-raba2 tubuh kakaknja. Ia tahu bahwa kakak nja hanja sekedar pingsan. Karena itu kemudian dibiarkannja sadja tubuh itu terbaring diam. Wong Sarimpat itu jakin, bahwa kakaknja itu pasti akan sadar dengan sendirinja.
Tetapi bagaimana dengan mPu Sada jang terlempar kedalam djurang itu?
— Orang itu ludah terluka. Ia pasti akan mampus ter banting diatas batu2 padas — gumamnja seorang diri.
Ketika ia melihat Kuda-Sempana maka sekali lagi ia menggeram — Hem, buat apa kakang Kebo Sindet memelihara tikus pengetjut itu.
— He — teriaknja kemudian — Kuda-Sempaaa, apakah kau sudah mampus pula.
Kada-Sempana mendengar suara itu. Tetapi tubuhnja jang lemah masih sadja belum dapat diadjaknja berdiri, meskipun kini telah mulai terasa didjalari oleh beberapa bagian dari kekuatannja kembali.
Namun Kuda-Sempana itu mendjadi heran pula. Kenapa ia tidak sadja dibunuh seperti Tjundaka atau seperti gurunja. Kenapa ia masih sadja dibiarkan hidup. ?
Wong Sarimpat jg. masih ingin melepaskan kemarahannja itupun ber-teriak2 — He Kuda-Sempana. Kenapa kau tidak mampus sadja sama sekali ? Sajang kakang Kebo Sindet masih membiarkan kau hidup. Meskipun aku tidak tahu apa gunanja lagi kau hidup, tetapi aku tidak berani melanggar keinginan kakang Kebo Sindet, dan kau boleh bersenang hati karenanja.
Kuda-Sempana masih belum mendjawab teriakan2 itu. Badannja masih sangat lemah, dan ia sama sekali tidak ber nafsu berteriak seperti Wong Sarimpat.
Ketika Wong Sarimpat itu merasa dadanja seperti tertusuk djarum karena ia ber-teriak11 maka iapun berhenti. Kini dite kuninja kakaknja jang masih terbaring diam. Per-’ahan2 ia mentjoba menggojangkan tubuh itu. Mengangkat tangannja dan menggerakkannja dengan hati2.
.Lambat laun Kebo Sindetpun mulai menggerakkan tu buhnja. Perlahan2 ia menarik nafas, kemudian menggerakkan udjung2 kakinja.
— Kakang — panggil Wong Sarimpat.
Lamat2 Kebo Sindet mendengar panggilan itu. Per-lahan2 ingatanjapun bangkit kembali merajapi otaknja. Diingat nja peristiwa demi peristiwa jg. terdjadi. Jang terachir dari peris tiwa itu adalah pukulan tangkat jang mengenai pelipisnja, se mentara kakinja menghantam tubuh orang tua itu.
Tiba2 Kebo Sindet itupun menggeram. Dengan serta-merta ia mentjoba bangkit. Tetapi terasa betapa kepalanja masih sangat pening dan gunung gundul itu serasa berputar. Tubuhnja serasa berada pada poros pusaran itu.
Kebo Sindet memegangi kepalanja jang pening dan sakit. Tetapi ia telah memiliki segenap kesadarannja kembali. Ka rena itu maka kemudian ia berkata parau — He, dimana mPu Sada ?
Wong Sarimpat mentjoba menolong kakaknja. Tetapi da danja sendiri terasa sakit bukan buatan. Dengan tegasnja ia mendjawab — mPu itu terlempar kedalam djurang.
— He ? Orang itu terlempar kedalam djurang t – ulang Kebo Sindet.
— Ja.
— Orang itu harus kita tjari. Kita harus jakin bahwa ia telah mati.
— Kenapa kakang masih ragu2. Dadanja terluka karena goresan golok kakang. Tubuhnja terlempar karena tendangan kakang jang keras, kemudian terbanting keatas batu1 padas. Apakah masih mungkin seseorang dapat hidup mengalami hal itu semuanja? Meskipun seandainja mPu Sada itu mPu jang turun dari langit sekalipun, namun ia pasti hantjur.
— Aku ingin melihat majat dengan mata kepalaku sendiri.
— Kakang terluka. Sepasang tangan kakang dan agaknja pelipis kakang telah menjebabkan kakang tidak sadar lagi.
— Persetan. Aku sudah baik. — sambil menggeretakkai giginja Kebo Sindet berusaha untuk berdiri. Alangkah besar tekad jang membakar djantungnja, sehingga betapapun dju ga ia masih mampu berdiri tegak.
Kebo Sindet menengadahkan wadjahnja jang beku. Dan wadjah jang beku itu kini tampak mendjadi semakin mengerikan. Lewat matanja memantjarlah peraiaannja jg me¬luap8. Kebentjian, kemarahan dan nafsu utk. membinasakan mPu Sada itu. Apalagi kini, ia sudah terlandjur memulainja
— Kita akan turun dan mentjari orang itu. — desis Ke bo Sindet.
Wong Sarimpat kenal betul tabiat kakaknja Karena itu ia tidak menjahut. Ia tahu betul bahwa ia akan turut serta turun lereng gunung gundul itu untuk mentjari mPu Sada. Betapa sakit dadanja, tetapi ia harus berbuat seperti kakak nja.
— Bagaimana dengan Kuda-Sempana? — bertanja Kebo Sindet.
— Itu — djawab adiknja sambil menundjuk kearah Ku da-Sempana aku beri tekanan pada urat lehernja, sehingga ia kehilangan kekuatannja. Tetapi agaknja ia telah mulai di djalari oleh kekuatannja kembali.
— Djangan biarkan ia pergi. Biarlah ia beristirahat disi ni sebentar. Kita akan pergi. Mudah2an tjahaja obor itu aVan membantunja, mendjauhkan andjing2 liar.
— Baik kakang — sahut Wong Sarimpat.
Perlahan2 ia berdjalan ter-bungkuk2 mendekati Kuda Sempana. Dengan kakinja ia melemparkan obor jang satu ke arah jang lain, sehingga kedua obor jang telah mulai redup itu mendjadi agak besar kembali, setelah bergabung mendja di satu.
Kemudian setapak demi setapak ia mendekati Kuda-Sem pana. Terdengar orang itu menggeram mengerikan — Kuda Sempana. Kakang Kebo Sindet menghendaki kau tetap disini. Karena itu aku akan menolongmu supaja kau dapat beristira hat dan tidak pergi meninggalkan tempat ini
Sebelum Kuda-Sempana menjahut, terasa telapak tangan orang itu pada lehernja. Betapapun ia berusaha melawan, na mun ia tidak mampu menahan ketika terasa djari8 orang itu sekali lagi menekan tengkuk.
Kuda-Sempana berdesis pendek. Kekuatannja jang telah mulai terasa merambat di-urat2 nadinja, kembali kini se-olah2 terhisap habis. Kembali ia mendjadi lemah dan terbaring di am diatas bukit gundul itu.
— Gila — ia mengumpat dalam hati. Terasa tubuhnja seperti tidak bertulang. Ia hanja mampu menggerakkan tangan dan kakinja dengan mengerahkan segenap sisa2 jang ada Ber gerak sekedar bergerak. Namun tangan dan kakinja sudah ti dak mampu lagi berbuat sesuai dengan tugas anggaula2 ba dan i’u.
— Sudah kakang — berkata Wong Sarimpat kemudian.
— Bagus, marilah kita tjari orang tua itu. Biarlah ia mampus, dan aku ingin melihat bangkainja dan melemparkan nja kepada andjing2 liar.
Wong Sarimpat berdjalan kembali mendekati kakaknja Kemudian mereka berdjalan per-lahan2 mentjari djalanjang dapat dilaluinja untuk menuruni lereng bukit gundul itu. Te tapi Kebo Sindet selalu meng-umpat2. Agak lama mereka berdjalan menjusur pinggiran bukit, tetapi mereka tidak segera menemukan tempat jang memungkinkan mereka merajap tu run.
— Gila — Kebo Sindet menggeram — bagaimana kita turun Wong Sarimpat ?
Wong Sarimpat tidak segera mendjawab. Ditjobanja untuk memandang kearah jang agak djauh. Tetapi malam mendjadi semakin pekat dan tjahaja obor mereka didekat Kuda-Sempana terbaring tidak dapat mentjapai tempat2 jang ditjarinja
— Seandainja mPu jang gila itu tidak berbuat tjurang — gerutu Wong Sarimpat.
— Kenapa ? — bertanja kakaknja.
— Kalau kita tidak terluka, maka kita akan dapat ter djun disetiap tempat. Disinipun dapat kita lakukan.
— Djangan mengigau. Keadaan ini telah kita alami. Se karang bagaimana kita mengatasinja
Wong Sarimpat tidak mendjawab. Tetapi matanja masih dengan nanar mentjoba mentjari lereng jang agak landai.
— Apabila terpaksa kita melingkar, lewat djalan penda kian jang biasa — gumam Kebo Sindet,
— Terlampau djauh.
— Habis, apa jang dapat kita lakukan ?
Kembali Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinja masih sadja meng-umpat2. Seandainja mereka tidak terluka, maka mereka tidak perlu bingung tentang djalan turun. Tetapi se perti kata kakaknja. Luka itu kini sudah mereka derita, se hingga mereka tidak dapat melangkah surut.
Kedua orang itu berdjalan kembali ter-tatih2 diatas buki2 gundul itu. Kebo Sindet tidak dapat mundur. Ia harus turun dan menemukan mPu Sada. Hidup atau mati. Kalau orang tua itu masih hidup, maka hidup itu harus segera diachiri.
Dalam pada itu, dibawah bukit gundul itu terlentang se orang tua jang sudah mendjadi sangat lemah. mPu Sada jang pingsan itu terporosok kedai am semak2 jang rimbun.
Ketika angin malam jang sedjuk per-lafaan2 mengusap wadjahnja, maka terasa udara jang segar mendjalar disegenap urat2nja.
Per-lahan2 orang tua itu mendjadi sadar kembali. Jang per-tama2 dirasakannja adalah njeri jang me-njangat2 dadanja-
— Hem — orang tua itu mengeluh. Tetapi segera ia me njadari keadaannja. Karena itu, maka segera dipusatkannja segenap kekuatan lahir dan batinnja.
Namun darah telah terlampau banjak mengalir, sehingga tubuh jang tua itu terasa mendjadi betapa lemahnja.
Tetapi mPu Sada adalah seorang jang telah banjak me nelan pengalaman jang pahit dan jang manis. Itulah sebabnja maka dalam perdjalanannja kali ini orang tua itu sudah mem bawa bekal jang tjukup. Sedjak ia berangkat dari rumahnja mentjegat perdjalanan Ken Dedes, ia telah memperhitungkan apa sadja jang dapat terdjadi atas dirinja. Diantaranja luka seperti jang dialaminja saat itu. Karena itu, maka mPu Sada itupun telah membawa reramuan obat didalam kantong ikat pinggangnja jang lebar dan terbuat dari kulit kerbau.
Dengan tangan jang lemah orang tua itu mentjoba meng ambil reramuan obatnja. Dan dengan tangan sendiri jang lemah itu, maka ditaburkannja obat itu pada luka d’dadanja.
Obat itupun adalah obat jang dibuatnja sendiri berdasar kan pengalamannja jang masak, sehingga obat itupun dapat dipertjajanja, se-tidak’nja menahan arus darah jang masih sa dja mengalir.
Ternjata taburan obat itu menolongnja. Per-lahan2 darah dilukanja itu mengental, dan menjumbat alirannja. Namun tu buh mPu Sada sudah terlampau lemah.
Orang tua itu menggeram. Tubuhnja sendiri terluka. Dan ia kehilangan kedua muridnja. Ia tidak pernah menduga, bahwa hatinja mendjadi pedih djuga atas hilangnja kedua muridnja itu. Ia mentjoba mengembalikan pikirannja kepada masa lampaunja. Bagaimana ia menerima kedua anak2 muda itu mendjadi muridnja.
— Ah, bukankah aku akan dapat mentjari jang lain de ngan mudah. Bukankah kedua orang itu pada saat2 terachir djuga tidak memberi aku upah seperti masa2 lalu ? Persetan dengan keduanja. Mereka bukan sanak bukan kadang. Aku menemukan mereka dalam pengembaraan hidupku. Dan kini mereka biarlah meninggalkan aku ditengah djalan.
Tetapi ia tidak berhasil mengusir kata2 hatinja sendiri. Bahkan kemudian ia bergumam — Kasihan anak2 itu.
Ketika dikcdjauhan terdengar andjing2 liar menjalak tak hen t i2-nja, maka hati orang tua itupun mendjadi ber-debar2. Ia tidak dapat berbaring terus di-semakl itu. Ada berma-tjatn2 bahaja jang dapat mengantjamnja. Andjing2 liar itu dan orang2 jang seliar andjing itu pula.
— Aku harus membuat sesuatu kalau aku ingin hidup terus — gumamnja.
mPu Sadapun menarik nafas. Ditjobanja untuk menenang kan debar djantungnja. Ketika sekali lagi ia mendengar an djing2 menjalak dikedjauhan, maka ditjobanja pula untuk bangkit dengan per-lahan2.
Orang tua itu menjeringai menahan sakit. Tetapi betapa lemah tubuhnja, namun kemauannja jang menjala didalam dadanja telah menghangatkan darah nja Pcr-lahan2 orang tua itu berdiri bersandar pada tongkatnja. Sambil memusatkan segenap kekuatannja, serta menjrsuaikan djalan pernafasannja, maka mPu Sada itupun mendapatkan sebagian ketjil dari ke kuatannja kembali. Namun dengan kekuatan jg ketjil dibantu oleh tongkatnja, mPu jang tua itu berhasil menggerakkan ka kinja.
mPu Sada tidak tahu benar, apakah jang telah terdjadi dengan Kebo Sindet. Ia merasa, bahwa tongkatnja berhasil mengenai orang itu. Tetapi akibat dari padanja, mPu Sada tidak dapat mengetahuinja. Karena itu maka sekarang ia ha rus memperhitungkan setiap kemungkinan. Kalau Kebo Sin det tidak mengalami tjedera, maka ia bersama adiknja jang meskipun telah terluka, pasti akan mentjarinja. Dalam keada annja, mustahillah ia dapat menjelamatkan diri dari kedjaran kedua orang2 liar itu.
Dengan demikian, berdasarkan atas perhitungannja, mPu Sada segera meninggalkan tempat itu. Ia berdjalan sadja ke arah jang tidak diketahuinja, namun segera mendjahui bukit gundul itu.
Ter-tatih2 orang tua itu berdjalan. Sekali2 ia masih ha rus beristirahat mengatur pernafasaonja. Kadang2 matanja terasa se-akan2 mendjadi gelap dan pandangannja mendjadi ke-kuning’an. Namun ia tidak mau mati. Ia harus berdju ang untuk menjelamatkan dirinja. Kemauan jang kuat itulah jang telah membawanja meninggalkan tempat jang tjelaka itu.
Dikedjauhan masih terdengar andjing2 liar menggong gong dan menjalak ber-sahut2an. Andjing2 itu akan sama ber bahajanja dengan kedua orang2 liar jang memuakkan itu.
Tetapi alangkah terkedjutnja mPu Sada ketika agak dja uh disisinja ia mendengar tiba2 sadja suara menjentak — Aku menandainja kakang. Disamping batu padas jaag mendjorok itulah ia terpelanting djatuh. Pasti ia berada disekitar tem pat dibawah batu itu pula. Ia pasti terbaring disana, apakah ia mati atau pingsan. Bahkan seandainja ia masih hiduppun ia akan mati pula karena darahnja jang mengalir dari lukanja.
— Tetapi aku harus melihat bangkainja. Harus. Aku tidak puas dengan dugaan2 serupa itu.
Dada mPu Sada mendjadi ber-debar2. Se-olah2 luka di dadanja mendjadi bertambah pedih.
— Setan itu masih mampu berdjalan begitu tjepatnja. — desahnja dalam hati. Meskipun suara itu masih belum ter lampau dekat, namun ia harus memperhitungkan keadaan. Ia tahu, bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih ber ada ditempat jang agak djauh. Dima’am hari, dilereng bukit pula, maka suara itu kedengarannja mendjadi semakin djelas.
— Aku harus segera mendjauhinja — katanja didalam hati pula.
mPu Sada mentjoba mempertjepat langkahnja. Tetapi na fasnja dan sakit didada dan telinganja benar2 telah menggang gunja, bahkan hampir2 ia tidak mampu lagi untuk bergerak. Meskipun darah tidak lagi mengalir dari luka didadanja ka rena reramuan obat2nja namun sakitnja masih djuga me-nusuk2 sampai ke-pusat djantung.
Dikedjauhan ia mendengar suara pula — Mudah2an bau darahnja memanggil andjing2 liar kemari. Seandainja ia ma sih hidup, maka ia akan mendjadi hidangan malam ini.
— Bagaimana ka’au ia lari?
— Tidak mungkin kakang. Tidak mungkin. Seandainja ia masih mampu berdjalan, maka ia pasti hanja dapat me langkahkan beberapa langkah. Kemudian ia akan djatuh ter baring. Mati atau hanja menunggu saat untuk mati. Mati le mas karena kehabisan darah, atau mati karena andjing” Uar.
— Mungkin. Mungkin. Tetapi aku harus melihatnja, harus;
— Baik. Lihatlah bajangan batu padas jang mentjorong itu. Kita lihat dibawahnja.
Suara itu semakin lama mendjadi semakin dekat. Dada mPu Sadapun mendjadi semakin ber-debar2. Ditjoba meng¬amati daerah sekitarnja. Gerumbul2 ketjil dan ilalang liar jang bertebaran hampir disepandjang lereng itu.
— Aku tidak dapat bersembunji didalam gerumbul1 ketjil katanja didalam hati — dan tidak pula melalui ilalang liar itu. Dengan demikian, maka djedjakku akan segera dapat mereka ikuti.
mPu Sada mendjadi bingung sedjenak. Kali ini ia masih terlindung dari beberapa gerumbul semak2 dan ilalang liar. Tetapi kalau Kebo Sindet dapat menemukan bekas tempat ia terdjatuh, maka mereka pasti akan dapat menemukan djedjak nja di-alang2. Tetapi kalau ia keluar dari daerah alang2, maka ia akan berada ditempat terbuka. Kemungkinan akan mendja di besar pula, kedua orang itu melihatnja, meskipun didalam gelap malam.
Da’am keragu2an, tiba? mPu Sada melihat dataran jang ber-ki’at disebelah gerumbul2 liar beberapa puluh langkah daripadanja memantulkan tjahaja bintang jang bergajutan di langit. Dan tiba2 pula mulutnja berdesis — Air. Air. Itu adalah sebuah sendang jang agak luar. Tetapi bagaimana aku dapat menjeberangi sendang itu? Kalau sendang itu tjukup dalam, maka aku pasti akan tenggelam. Keadaanku tidak memung kinkan aku uatuk berenang sampai kesisi jang lain.
Kembali mPu Sada mendjadi ter-mangu2. Se-akan2 tidak ada djalan jang dapat ditempuhnja untuk menjingkirkan diri. Ilalang akan memberi djedjak kepada kedua oiang jang me ngedjarnja. Gerumbul2 jang bertebaran terlampau ketjil untuk tempatnja bersembunji. Ditempat terbuka sama sekali tidak menguntungkannja. Dan salah satu arah jang lain adalah air sendang jang luas Sendang jang tidak akan mampu direna nginja karena keadaan tubuhnja. Bahkan sendang itu djustru mendjadi dinding jang mengungkungnja da’am satu lingkaran jang serasa terlampau sempat menempatkan tubuhnja jang ketjil itu.
Kembali mPu Sada mendengar suara semakin dekat —k2. Mereka telah mengetahui bahwa sandang itu iju kap luas. Babkan di-tengah2 sendang itu tumbuh sematjam tumbuh’an air jang berbabaja. Ganggeng. Jang menurut tjeritera ganggeng itu sering menelan binatang atau manusia sebagai makanannja. Tetapi Kebo Sindet dan Woag Sarimpat tidak menjakininja. Jang mereka ketahui adalah, bahwa gang geng itu berakar banjak dan pandjang, sehingga apabila sese orang berenang melampaui sekelompok tumbuh2an ganggeng, maka tubuhnja pasti akan terbelit. Apabila seseorang mendjadi binggung dan kehilangan akal, maka mus ahil ia dapat mele paskan d>ri dari belitan akar ganggeng jang sangat banjak dan pandjang2.
— Ia meninggalkan gerumbul alang2 ini kakang. Ia per gi ketempat terbuka.
Kebo Sindet meng-anggukSkan kepalanja. Ia tahu benar bahwa lapangan rumput itu terlampau sempit. Diudjung, le reng bukit gundul itu bertemu dengan sisi sendang, sehingga tak seorangpun jang akan mampu melampauinja. Jang dapat dilakukan adalah, terdjun kedalam s-ndang atau mendaki te bing jang tjuram, jang keduanja sangat sulit. Tak seorangpun jaag dapat mendaki tebing jang sangat tjuram itu dan tak seorangpun jang akan dapat melampaui tebaran tumbuh’an ganggeng di-»engab2 sendang itu. Apabila seseorang masuk kedalam sendang, maka satu2nja kemungkinan untuk hidup adalah kembali kesisi ini.
Apabila seseorang tidak mendaki tebing dan tidak terdjun kedalam sendang, maka satu’nja djalan adalah kembali me ninggalkan tempat jang terbuka, masuk kedalam semak1 batang1 ilalang bertebaran memenuhi sisi bukit gundul itu.
Karena itu maka Kebo Sindet itu menggeram — Tidak ada kemungkinan lain.
Wong Sarimpat jang mengenal tempat itu sebaik kakak nja, tahu benar maksud kata1 itu, s-hingga dengan serta mer ta ia mendjawab — Ja, tidak ada kemungkinan lain. Mari lah kita lihat batang2 ilalang disekitar tempat ini. Kalau ti dak ada bekas kakinja meninggalkan tempat ini, maka orang itu pasti mentjoba melarikan diri menjeberargt sendang itu.
Kebo Sindet tidak mendjawab. Segera ia berdjalan me njusur pinggiran semak2 ilalang jang memagari tempat terbu ka itu. Ditjobanja uatuk menemukan djedjak apabila mPu Sada mentjoba meninggalkan tempat itu. Wong Sarimpatpun kemudian berbuat serupa. Dengan saksama ia meneliti setiap langkah. Diamatinja dengan penuh kewaspadaan. Bukan sa dja djedjak kaki, tetapi apabila tiba2 dari ba ik semak2 dan batang2 ilalang itu mematuk sebatang tongkat pandjang. Tong kat mPu Sada.
Tetapi sampat keudjung, sampai semak2 ilalang itu ber taut dengan sisi sendang disebe’ah jang lain, mereka sama se kali tidak menemukan djedjak itu. Tak ada tanda2 pada se mak2 ilalang itu seperti jang pernah merrka libat. Tak ada batang2 ilalang jaag roboh karena terindjak kaki-
Kebo Sindet itu menggeram. Dadanja se-akan2 mendjadi pepat karena kemarahannja.
— Setan itu telah ienjap — umpatnja — bagaimana mungkin ia bisa lari.
— Tidak mungkin — sabut Wong Sarimpat — tidak mungkin. Orang itu aku kira telah terdjun kedalam Sendang. Ia tidak tahu sama sekali bahaja jang telah menunggunja. Selain tubuhnja jang lemah, maka ganggang itu pasti akan men elan nja.
— Aku belum jakin — sahut kakaknja — ia adalah orang jang sangat tjerdik. Otaknja tadjam tidak seperti otakmu. Mungkin ia masuk kedalam sendang disepandjang tepi semak2 ini sekedar menghilangkan djedjak. Kemudian ia masuk kem bali diantara batang ilalang beberapa langkah dari tempat ini.
Wong Sarimpat meng-angguk’kan kepalanja. Hal itupun memang mungkin terdjadi. Tetapi mPu Sada tidak akan dapat terlampau djauh menjusur tepi sendang ini, sebab disebelah jang agak dalam, tepi sendang ini mendjadi tjuram. Karena itu maka ia sependapat ketika kakaknja berkata — Kita te lusur tepi sendang ini. Apabila kita sampai ditempat jang tjuram itu, kita belum menemukan djedjaknja, maka baru kita jakin bahwa orang tua itu terdjun kedalam sendang.
Keduanjapun kemudian dengan hati2 masuk kedalam pinggiran sendang jang landai dan tidak terlampau dalam. Per-laban2 mereka berdjalan sambil mengamati semak2 ilalang dipinggir sendang itu. Setiap ada tanda2 jang mentjurigakan maka segera mereka berdua mengamatinja dengan seksama.
Tetapi kembali mereka mendjadi ketjewa. Mereka sama sekali tidak menemukan djedjak apapun sehingga mereka sam pai kesisi sendang jang tjuram.
Kemarahan Kebo Sindet mendjadi semakin memuntjak. Dadanja serasa akan meledak karena kemarahannja itu. Wong Sarimpatpun mengumpat tidak habis2nja sehingga kakaknja membentaknja — He, tutup mulutmu. Sekarang terbnkti bah wa kau masih sadja selalu menuruti angan2mu jang bodoh.
Tjoba katakan sekarang, dimana mPu Sada itu.
Wong Sarimpat tidak mendjawab. Tetapi terdengar ia menggeram.
— Ajo, sekarang kita menjusur tepi sendang ini. Mung kin mPu Sada hanja sekedar masuk kedalam air merendam kan tubuhnja, untuk nanti menepi kembali.
— Marilah — sahut adiknja.
Kembali keduanja berdjalan menjusur tepi sendang itu. Sekali2 mereka berhenti agak lama dan memperhatikan per mukaaa sendang itu, seandainja mereka melihat sesuatu. Te tapi permukaan air jang datar itu, sama sekali tidak dinodai oleh sesuatu apapun. Mereka sama sekali tidak melihat wadjah air beriak, atau sebuah kepala jang muntjul kepermukaan air.
— Tak ada orang jang mampu merendam diri sekian la ma bersama seluruh tubuhnja. Sekali2 ia harus muntjul keatas permukaan air untuk mengambil nafas. — gera-n Kebo Sindet.
— Mungkin ia telah berenang agak ketengah dan lenjap ditelan ganggeng.
— Kau masih djuga ber-angan2. Mungkin dan mungkin
lagi.
Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinja bergumam – Lalu apakah orang itu dapat lenjap mendjadi asap.
Beberapa lama mereka menunggui sendang itu. Bahkan kemudian Kebo Sindet melihat sesuatu ditepi sendang itu. Se potong kain ketjil berwarna ungu.
— Katju, kau lihat — teriak Kebo Sindet.
— Ja, katju. — sahut Wong Sarimpat dengan serta-merta
— Pasti seseorang telah datang kemari Lihat, apakah jang dibendeli dalam katju itu.
Wong Sarimpat segera memungut sepotong kain berwar na ungu, jang ternjata didalamnja ada sesuatu benda jang terbalut. Ketika Kebo Siadet membuka sepotong kain berwarna ungu itu, maka tiba2 ia berkata — Ini pasti milk mPu Sada.
Pasti. Kau libat bumbung ketjil ini P Isinja adalah sebuah rs ramuan obat2an. Mungkin obat2an ini pulalah jang telah mem buatnja mendjadi kuat dan dapat menempuh djarak ini.
Wong Sarimpat meng-angguk2kan kepalanja. Tetapi ia mengumpat tak habis2nja. Sambil membanting potongan kain itu ditanah ia berkata lantang — la pasti terdjun kedalam sendang ini. Pasti. Tetapi dengan demik an ia pasti menemui adjalnja pula, berkubur didalam perut pelus jang menunggui sendang ini.
Kebo Sindet jang ber wadjah beku itu berdiri mematung ditepi sendang. Tetapi matanjalah jang memantjarkan gedjolak dida’atn dadanja. Apabila mPu Sada itu lepas dari tangannja, maka orang itu akan mendjadi orang jang paling berbahaja baginja. dang itu pasti mendendamnja pula. Tetapi untuk sementara, mPu Sada pasti masih harus menjembuhkan luka2 nja jang pasti lebih berat dari lukanja sendiri. mPu Sada itu pun pasti tidak akan segera dapat berhubungan dengan Ma hisa Agni atau Tunggul Ametung. Dengan demikian masih akan timbul salah paham diantara mereka karena hubungan mereka jang terlampau djelek di-masa2 jang lampau.
Dalam pada itu Wong Sarimpat masih djuga berteriak -He mPu jang gila. Djangan bersembunji didalam air. Kau akan mampus ditelan ganggeng. Ajo keluarlah.
Namun suaranja jang melontar itu hanja disaut oleh ge manja sendiri. Gema jang memantul dari lereng-lereng bukit gundul.
— Tak ada orang jang dapat hidup didalam air — ber kata Kebo Sindet kemudian. Kita tunggu disini untuk sedje nak. Kalau kita sudah jakin, bahwa mPu Sada tidak sekedar merendam diri, maka kita akan mendapat kesimpulan, hahwa orang itu telah mentjoba melarikan diri, menjeberangi sendang ini.
— Dan ia akan mampus diantara ganggeng2 itu.
Kebo Sindet tidak mendjawab. Tetapi ia berdiri dengan gelisah. Dengan dada jang meng-hentak2 ia berdjalan mondar-mandir. Ia mengharap melibat sebuah kepala tersembul diper mukaan air. Tetapi ia tidak melibatnja, meskipun tjukup lama ia berada dipinggir sendang itu. Ia tidak melihat sebuah ke pala jang muntjul dipermukaan air.
— Kalau orang tua itu berada didalam air, maka sekali2 ia akan muntjul dan akan segeia dapat kita litat.
— Ja — Sahut Wong Sarimpat keras2 — tetapi oratg itu sangat bodoh. Dan ia mentjoba berenang menjeberacg.
Kebo Sindet tidak menjahut. Dibiarkannja adiknja ber¬teriak memanggil nama mPu Sada dan sekali2 ia ter-tatuk2 karena dadanja serasa mendjadi pepat. Namun demikian ia berhasil mengatur pernafasannja, maka dipuaskannja hatinja dengan ber-teriak2 untuk mengurangi himpitan keketjewaan nja atas hilangnja mPu Sada.
Achirnja Kebo Sindet mendjadi tidak sabar lagi. Menu rut perhitungannja, ia telah terlalu lama berdiri, dan kemu dian duduk, untuk sedjenak lagi berdiri, ditepi sendang itu. Kalau benar mPu Sada masuk kedalam sendang itu, maka ia pasti sudah mati lemas, atau mati dibelit ganggang. Sedang kemungkinan jang laiu tidak ada.
— Aku harap orang itu sudah mampus — desis Kebo Sindet.
— Pasti. Pasti sudah mampus — teriak Wong Sarimpat. Kemudian keras2 ia berkata — Kalau belum ia pasti akan muntjul dipermukaan air.
— Mari kita kembali. Kita libat Kuda-Sempana, apakah ia masih utuh atau tinggal Kerangkanja sadja dirobek-robek andjing liar — berkata Kebo Sindet.
— Apakah keberatan kita kakang ? — sahut Wong Sa rirapat — biar sadjalah Kuda-Sempana itu mampus pula.
— Aku masih memerlukan anak itu. Mungkin masih ada keterangan2 jang bisa diperas daripadanja. Bersikaplah baik terhadap anak itu.
Wong Sarimpat menggeram. Kepada Kuda—Sempana ia mempunjai tanggapan jang serupa seperti kepada gurunja dan kepada Tjundaka jang telah dibunuhnja. Tetapi ka reaa kakaknja menghendaki, maka berapa berat perasaannja, ia harus memenuhinja.
Keduanjapun kemudian meninggalkan sendang itu. Kebo Sindetpun kini telah jakin, bahwa mPu Sada pasti akan mati di-tengah2 sendang itu. Tak ada orang jang dapat menahan nafasnja sekian lama, sepaadjang mereka berdua berada dite pi sendang itu. Dan tak adn orang jang akan dapat menje berangi sendang itu dengan selamat. Orang itu pasti akan ter.g gelam dibelit oleh ganggeng jang tumbuh lebat hampir disegenap sudut sendang itu. Sedangkan apabila mPu Sada tetap tinggal ditepi, maka setiap kali ia mengambil nafas ma ka pasti akan dilihatnja.
Ketika keduanja mulai melangkahkan kakinja, maka tiba2 Wong Sarimpat membungkukkan badanrja. Diraih nja beberapa buah batu dan di-lempar2kannja ! .dalam sendang itu sambil berteriak — Mampuslah kau, mampuslah.
Tetapi batu2 itu tidak terlampau besar, dan wadjah sen dang itu terlampau luas. Tetapi Wong Sarimpat berbuat asal sekedar berbuat sadja. Ia hanja ingin melepaskan keketjewaan, kemarahan dan dendam kerena luka didadanja.
Suara Wong Sarimpat jang meng-umpat2 semakin lama terdengar semakin djauh dari sendang itu. Ketika dadanja mendjadi sakit, barulah ia terdiam dan ter-batuk2. Seterusnja orang itu tidak lagi berteriak dan meng-umpat8.
Dengan ter-tatih2 keduanja berdjalan menerobos semak8 ilalang disekitar bukit gundul itu. Bahkan Kebo Sindetpun kemudian mendjadi agak ter-gesa2. Ia takut Kuda—Sempana jang ditinggalkannja akan dikerumuni oleh andjing1 hutan, mendjadi makanan mereka jang menjenangkan.
Ia masih merasa perlu atas Kuda—Sempana. Banjak hal jang dapat dilakukan oleh anak itu. Meskipun apa jang akan dilakukan kelak atasnja, mungkin sama sekali tidak menjenang kan bagi Kuda—Sempana, tetapi Kebo Sindet masih merasa perlu untuk bersikap baik terhadapnja. Kebo Sindetpun memperhitungkan, bahwa Kuda-Sempana bukanlah seorangpe ngetjut jang bcr-lebih’an. Mungkin ia akan mempertahankan harga dirinja, dan membiarkan dirinja mati apabila ia ditjoba untuk diperas dengan kasar. Tetapi dengan tjara lain, mungkin anak muda jang kehilangan gurunja itu akan mendjadi lunak. Meskipun apabila terpaksa, maka segala tjara akan ditempuh oleh kedua hantu lereng bukit gundul itu.
Demikianlah maka kedua orang itupun kemudian mengang gap bahwa mPu Sada telab berusaha melarikan dirinja de ngan raenjeberangi sendang. Dengan demikian maka mereka pun menganggap bahwa orang itu pasti sudah binasa di-tengah2 sendang itu dibelit ganggeng.
— Tidak mungkin mPu Sada dapat melenjapkan diri se perti asap-berkata Kebo Sindet didalam hatinja dan tidak mungkin seseorang mampu ntenjeberangi sendang itu dengan selamat.
Meskipun demikian, Kebo Sindet itu berkata — Besok kita kembali ketempat ini untuk mejakinkan kematian mPu
Sada.
— Baik — sabut adiknja.
Kembali mereka berdiam diri sambil melangkah diantara batang ilalang menudju kelereng pendakian bukit gundul itu.
Sementara itu mPu Sada masih mentjoba bersembunji didalam air. Baginja tjara itu adalah satu2nja djalan. Ia be lum mengenal daerah itu dengan baik, sehingga ia tidak tahu, kemana ia akan lari. Sedangkan pada saat itu, suara kedua orang liar itu sudah semakin dekat. Untunglah bahwa ia me rasa terlampau lemah untuk mentjoba melarikan diri dengan merenangi sendang jang tidak dilihatnja tepi diudjung lain karena malam jang pekat.
Maka tak ada pilihan lain baginja daripada terdjun ke dalam air. Dengan menahan dingin dan pedih pada luka di dadanja, ia merendam dirinja. Hanja kepalanja sadjalahjang semula masih berapa diatas air. Tetapi ketika didengarnja su ara Kebo Sindet dan Wong Sarimpat semakin dekat, dan ketika samar2 telah dilihatn jakedua orang itu mendekati tepi sendang maka segera dibenarakannja segenap tubuhnja.
Orang tua itu mempergunakan gelagah ilalang untuk me nahan supaja ia tetap dapat bernafas meskipun dengan mu lutnja. Satu udjung gelagah itu dimasukkannja kedalam mu lutnja, sedang udjungnja jang lain ditjuatkannja keatas permu kaan air. Dengan demikian ia masih mampu melakukan per nafasan meskipun dengan mulutnja.
Namun usaha itu ternjata telah menjelamatkannja. Ter njata Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak memperhitung kan sedemikian djauh, sehingga ketika mereka berada ditepi sendang itu tjukup lama, dan tidak dilibatnja sebuah kepala jang kadang2 tersembul keatas air untuk menarik nafas, maka mereka menganggap bahwa mPu Sada tidak berada ditempat itu. Tidak berada ditepian sendang jang dangkal.
Meskipun mPu Sada merendam seluruh tubuhnja, terma suk kepalanja didalam air, namun samar2 ia mendengar sua ra Wong Sarimpat meng-umpat2. Me-manggil2nja dan ber¬teriak- tidak menentu
Ketika Wong Sarimpat melemparkan batu kedalam sendang itu, maka hampir sadja batu itu mengenainja, bahkan hampir sadja mengenai kepalanja. Tetapi untunglah, bahwa kepalanja njaris terkena lemparan itu.
Achirnja suara ribut Wong Sarimpat itupun lenjaplah. Tidak ada lagi umpatan2 jang didengarnja. Tidak ada lemparan2 batu jang dirasakannja.
Meskipun demikian mPu Sada tidak segera berani mun tjul kepermukaan air. Ia masih takut apabila kedua orang itu masih menunggui ditepi sendang. Dengan demikian, maka usahanja merendam diri semakin lama, sehingga ia menggigil kedinginan dan kesakitan jg sangat pada dadanja itu akan sta2.
Tetapi achirnja mPu Sada itupun jakin bahwa kedua orang itu telah pergi. Per-’aVian2 ia mentjoba mendjengukkan matanja kepermultaan air. Dan kini tidak dilihatnja lagi se seorang dipinggir sendang itu. Dengan teliti diamatinja setiap bajangan jang betapapun samar2nja. Mungkin bajangan itu adalah kedua orang liar jang memuakkan itu. Namun achirnja ia mendapat kesimpulan bahwa kedua orang itu memang telah pergi.
Per-!ahan2 mPu Sada bangkit berdiri. Air tempatnja ber sembunji sebenarnja tidak terlampau dalam. Masih belum melampaui perut. Namun karena mPu Sada berhasil meren damkan stluruh tubuhnja, dan tjahaja Lintang2 dilarg’n jar g sama sekali tidak membantu memeijahkan gelap malam itaka kedua orang liar itu tidak melihatnja.
mPu Sada jang kedinginan itu kemudian rrfelargkah me nepi. Lut itnja gemetar dan darahnja serasa hampir membeku.
— Gila gumamrja— pengalaman ini adalah p-rgalarran jang paling menark s •pandjang hidupku. Sepanojarg petua Jangan jang pernah aku lakukan. Telah berpuluh kali aku bet kelahi, berpuluh kali terluka dan berpuluh kali membunuh lawan. Namun belum pernah aku merendam dui selaba ini, hanja sekedar ini menghindari kedua setan bukit gundul ini.
mPu Sada menarik nafas dalam2. Ketika ia me-raba2 ikat pinggangnja, diketahuinja bahwa katju sepotong jang di pakainja untuk membalut obat2-nja terdjatuh.
— Hem, pasti ketika aku membenahi diri sebelum aku terdjun kemari.
mPu Sadapun kemudian mentjari sepotong kain ungunja. Ketika kemudian kain sepotong itu diketemukan, maka gu mamnja — Kedua orang itu pasti melihat potongan kain ini. Kalau demikian, maka mereka pasti sudah tahu bahwa aku masuk kedalam sendang ini.
mPu Sada kini menjadari keadaan diri sepenuhnja. Ke dua orang jang mentjarinja pasti menjangka, bahwa ia telah mentjoba melarikan diri merenangi sendang itu. Namun mPu Sada kemudian tidak dapat mengambil kesimpulan, bagaima nakah anggapan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas dirinja. mPu Sada tidak dapat segera mengetahui, bahwa Wong Sa rimpat dan Kebo Sindet telah menganggapnja mati ditelan ganggeng di tengah2 sendang itu.
Karena itu, maka mPu Sada itupun kemudian bergumam — Mungkin mereka masih berusaha untuk segera menemukan aku. Karena itu aku harus segera pergi.
mPu Sada segera melangkahkan kakinja. Beberapa lang kah kemudian ia masih menemukan bumbungnja jang berisi reramuan obat.Van. Tetapi sebagian dari obat2annja telah ber-serak2 diatas rerumputan dan tak mungkin lagi dikumpul kan nja. Tetapi sebagian ketjil jang masih berada didalam bumbungnja itupun masih dapat menghiburnja.
Malam semakin lama mendjadi semakin dalam. Angin jang dingin berhembus menjusur bukit. Alangkah dinginnja.
mPu Sada jang tua itu menggigil kedinginan. Pakaian dan tubuhnja basah kujup oleh air sendang tempatnja berdiam diri. Tetapi ia tidak mempunjai ganti, sehingga meskipun be tapa perasaan dingin menggigit sampai kctulang, maka terpaksa pakaian jang basah itupun tetap dipakainja
Kini ia dihadapkan pada persoalan, bagaimana ia d a-at keluar dari tempat ini. Ia harus mampu menghilangkan segala matjam kesan, bahwa ia masih berada ditempat itu. Ia harus memelihara anggapan bahwa mPu Sada lenjapkcda’am sendang. Lari menjeberangi sendang itu, supaja Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak berusaha mengedjarnja dengan mentjari djedjaknja. Sebab ia merasa bahwa ia masih belum rr.ampu untuk meninggalkan tempat itu dengan tjepat.
Ketika mPu Sada sampai ke-semak2 ilalai.g. maka ia memperhitungkan keadaan. Ia harus berdjalan tanpa mening galkan djedjak. Karena itu, maka ditjarinja djedjak Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dengan hati2 mPu Sada bcrdja lan disepandjang djedjak mereka, diatas batar.g2 ila’ang jang telah roboh ter-indjak2 kaki2 mereka. Namun disuatu tempat ia harus memisahkan diri dari djedjak itu dan mentjari ke sempatan jang baik tanpa menimbulkan ketjurigaan.
Demikianlah dengan hati2 mPu Sada berdjalan ter-tatih2. Tubuhnja jang kedinginan, dan dadanja jang pedih merupakan penghambat jang mengganggunja. Tetapi ia menjadari kea daan sepenuhnja. Ia harus pergi se-djauh2nja.
Achirnja djedjak kaki jang ditkutinja itupun keluar dari semak ilalang. Tetapi kedua orang Uar itu pasti menu dju kesisi bukit gundul jang landai, tempat mereka mendaki naik ketempat mereka berkelahi semula. Sendang mPu Sada pun kemudian memilih arah jang lain. Kalau masih kuat ia harus berdjalan sampai pagi. Semakin djauh semakin baik. Ia masih belum berpikir kemana ia harus pergi.
Tetapi tanpa disengadja, mPu Sada telah memilih djalan kembali. Djalan jang berlawanan dengan djalan jang ditem puhnja pada saat ia datang kebukit gundul ini.
Sementara itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat jg meng anggap bahwa mPu Sada telah mati, bahkan hampir dapat mereka pastikan, dengan tes-gesa2 menurut kemampun jang masih merekaa miliki, telah mendaki bukit gundul itu kem bali. Wong Sarimpat jang selalu diganggu oleh perasaan njeri didadanja. berkali2 terpaksa berhenti ter-batuk2, sehing ga kakaknja berdjalan semakin djauh didepan.
Ketika mereka sampai keatas bukit gundul itu, mereka melihat Kuda-Sempana telah berbasil berdiri tegak. Bahkan dengan pedang ditangan ia menggeram — Ajo, kalau kalian telah berhasil membunuh guruku serta saudara seperguruanku, kenapa kalian tidak sanggup membunuh aku sama sekali?
Tetapi Kuda-Sempana mendjadi heran ketika ia melihat wadjah hantu jang membeku itu tiba2 tersenjum. Betapapun ma’am diwarnai oleh kegelapan serta obor didekatnja telah padam, namun Kuda-Sempana dapat melihat senjum itu. Senjum pada wadjah jang beku, sehingga karena itu, maka hatinja mendjadi ngeri. Se-olah2 ia melihat sesosok majat ang tersenjum kepadanja.
Ketika Kebo Sindet melangkah selangkah lagi mendekati nja tiba2 Kuda-Sempana jang hatinja keras sekeras batu hitam itu melangkah surut sambil berteriak — Djangan, djangan dekati aku.
Tetapi wadjah itu masih tersenjum. Senjum jang benar2 telah menggetarkan dada Kuda-Sempana. Bukan karena Kebo Sindet adalah seorang sakti jang setingkat dengan gurunja.
Ia sebenarnja telah bersedia untuk mati sekalipun. Tetapi ketika ia melihat se-akan2 sesosok majat tersenjum kepadanja, hatinja bergolak dahsjat sekali.
Tanpa dikehendakinja kembali ia berteriak — Pergi, pergi, atau pedangku akan memenggal lehermu itu.
Namun Kuda-Sempana terkedjut pula ketika ia men dengar Kebo Sindet itu berkata dengan tenang — Kuda-Sem pana. Sadarilah keadaanmu, dan apakah kau mau mendengar keteranganku?
Suara itu sangat berbeda dengan wadjah jang ditatapnja. Wadjah itu benar2 mengerikan, tetapi suara itu terasa tenang dan ber sungguh2.
— Aku ingin berkata sesuatu kepadamu. Aku harap kau dapat mendengarnja dengan tenang. Menimbang dengan bidjaksana. Sebenarnja aku tidak mempunjai maksud jang djelck terhadapmu.
Kini Kuda-Sempana terdiam seperti patung. Ia sama sekali tidak melihat sikap pemusuhan dari Kebo Sindet jang mengerikan itu. Bahkan terasa sikapnja sedjak semula tidak berubah, meskipun telah terdjadi perkelahian antara orang itu dengan gurunja.
Sedjenak kemudian Wong Sarimpatpun telah berdiri di sampingnja pula Sikap orang ini memang agak berbeda dengan sikap kakaknja- Tetapi meskipun demikian, iapun telah berusaha berbuat se-baik2nja. Ia ingin mentjoba ber buat seperti kakaknja, menenangkan hati Kuda-Sempana. Katanja — Apakah kau masih merasa tubuhmu terlampau lemah Kuda-Sempana? Kalau demikian, aku akan berusaha menjembuhkanmu.
Kuda-Sempana memandangi orang kasar itu dengan penuh ketjurigaan. Tetapi ia tidak menemukan kesan apapun pada wadjah Wong Sarimpat. Namun ia terkedjut ketika tiba2 ia mendengar Wong Sarimpat tertawa ter- bahak2 — M a tamu masih memantjarkan ketjurigaan.
Kuda-Sempana tidak segera menjahut, namun terdengar giginja gemeretak.
Tetapi Wong Sarimpat masih sadja tertawa berkepan djangan, sehingga achirnja ia berhenti dengan sendirinja ka rena dadanja mendjadi sakit. Sambil ter-bungkuk2 ia batuk2. Kedua tangannja menekan dadanja jang sakit itu.
Jang berkata kemudian adalah Kebo Sindet — Djangan bimbang lagi Kuda-Sempana. Aku masih tetap pada pendiri anku. Aku ingin menolongmu menangkap Mahisa Agni. Me njcrahkannja kepadamu.
Kuda-Sempana masih tetap berdiam diri. Ia masih be lum menemukan sikap jang se-baik2nja harus dilakukan. Da Iam pada itu Kebo Sindet itu berkata — Djangan hiraukan lagi gurumu. Aku terpaksa membunuhnja. Sekian lama aku menunggu kesempatan ini. Dendam jang tersimpan didalam dada ini se-akan2 tidak tertahankan lagi. Mungkin kau be lum mengetahuinja, persoalan jang selama ini se~olah£ ingin dilupakan oleh gurumu. Tetapi bagiku, sebelum gurumu berku bur dibukit gundul ini, hatiku masih belum puas. Tetapi mes kipuu kau adalah muridnja, namun kau tidak ikut tjampur dalam persoalan ini. Kau sama sekali tidak mengetahui udjung dan pangkalnja, sehingga kau kami bebaskan dari setiap tin dakan apapun.
Kuda-Sempana masih menggenggam pedang ditangannja. Ia masih djuga belum dapat menentukan, sikap apakah jang sebaiknja dilakukan. Tetapi achirnja Kuda-Sempana itu men tjoba untuk memilih kemungkinan jang paling pandjang. Ka lau ia melawan, maka ia pasti akan mati. Tetapi kalau ia membiarkan dirinja menurut perintah kedua orang itu, ma ka ia akan tetap hidup. Selagi ia masih hidup, maka kemungkinan2 jang lain masih dapat terdjadi. Berbeda sekali deagan apabila ia terbunuh malam ini.
Meskipun demikian Kuda-Sempana masih djuga berdiam diri. Tanpa dikehendakinja, sekali ia berpaling memandangi majat saudara seperguruannja jang masih terbaring diatas b a tu2 padas diatas bukit gundul itu.
— Djangan hiraukan djahanam itu — teriak Wong Sa rimpat sehingga Kuda-Sempana terkedjut karenanja. Oiang itu telah mendapat upahmu sendiri. Kalau ia tidak terlara pau sombong, maka ia tidak akan menemui nasib begitu dje lek.
Kuda-Sempana masih belum mendjawab.
— Kuda-Sempana — berkata Kebo Sindet — mari ikut lab. kami. Kau akan tinggal bersama kami sampai kau dapat berbuat sesuatu atas Mahisa Agni. Aku berdjandji akan me nangkapnja hidup2 untukmu. Aku dapat menangkapnja pa da sebuah tonggak jang kuat. Dan kau akan dapat berbuat sesuka hatimu. Mungkin kau akan membunuhnja, atau mung kin kau akan membiarkannja tersiksa atau tjatjat untuk se umur hidupnja.
Kuda-Sempana tidak dapat segera mengetahui perasaan nja sendiri. Apakah ia mendjadi bergembira mendengar ta waran itu, atau tiba2 ia telah kehilangan nafsu untuk berbu at demikian. Gontjangan2 perasaannja masih sadja menggang gunja. Kematian saudara seperguruannja dan mungkin guru nja sendiri, benar2 telah mempengaruhi tjara dan kedjernih annja berpikir.
Namun ketika sekali lagi Kebo Sindet mengadjaknja, maka sekali lagi Kuda—Sempana mendjatuhkan pilihannja pada ke mungkinan jang paling djauh, Jaitu, ia ingin tetap hidup, se belum diketemukannja djalan jang se-baik2nja dilakukan.
— Mari ikut aku — adjak Kebo Sindet pula. Kuda—Sempana tidak mendjawab, tetapi ia mengangguk.
— Bagus — berkata Kebo Sindet. Kembali wadjah jang beku itu tersenjum. Dan kembali Kuda-Sempana mendjadi ngeri melihat senjum itu. Terbajang diwadjahnja, sesosok majat jaag bangkit dari kuburnja dan tarsenjam kepadanja.
Tetapi Kebo Sindet sama sekali tidak memperhatikannja lagi. Segera ia berdjalan kembali kegubugnja.
Kuda —Sempana jang masih sadja ragu2 merasa punggung nja disentuh. Ketika ia berpaling Wong Sarimpat telah berdiri dibelakangaja. Terdengar kemudian suara tertawanja meme kakkan telinga. Diantara suara tertawanja itu ia berkata — Marilah Kuda-Sempana. Kau akan menemukan tempat ting gal jang baru diantara kami- Kau akan segera mengenal tjara hidup orang8 kemunduagan. Orang’ Kemundungan ter njata terlampau baik terhadap kami. Mereka merasa bahwa kami telah melindungi mereka dari setiap kedjahatan jang dapat tcrdjaii. Kini baik pendjahat2 jang berkeliaran di-padukuhan2. Sedjak Baginda di Kediri bertindak lebih keras terhadap ke djabataa dan agaknja diikuti pula oleh setiap Akuwu termasuk Ak’iwu Tunggul Ametung, maka pendjahat2 lari bertebaran di-pa lukuhaa2 terpentjil. Tetapi ternjata sampai saat ini Ke i n-n dongan masih tetap lepas dari pengaruh kedjahatan itu.
Kuda-Sempana mengerutkan keningnja, tetapi ia tidak mendjawab. Ketika sekali lagi ia merasa tangan Wong Sarim pat me>jentuhnja, maka kakinjapun terajun melangkah mengi kuti Kebo Sindet jang telah beberapa langkah dimuka. Ketika sekali lagi ia berpaling kearah tubuh Tjundaka jang menjebut dirinja Bahu Reksa Kali Elo, terdengar Wong Sarimpat ber kata — Sebelum matahari bertengger diatas punggung bukit J i udjung Timur itu, maka jang tinggal disini adalah kerang kanja sadja. Andjing2 liar segera akan menerkamnja dan me robek2nja.
Terasa bulu1 tengkuk Kuda-Sempana meremang. Bagai manapun djuga orang itu adalah saudara seperguruannja jang telah lama bergaul dan bahkan orang itu telah berusaha membantunja pula untuk menyapai maksudnja, mesldpun ia tahu, bahwa Tjundaka itupun mempunjai pamrih djuga. Na mun ketika ia melihat tubuh itu terbaring diatas batu1 padas, maka hatinja berdesir pula.
Tetapi Kuda-Sempana tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Setiap kali ia tertegun, maka terasa Wong Sarimpat menjentuhnja. Sentuhan jang semakin lama terasa mendjadi semakin kasar, meskipun orang itu masih djuga ter¬tawa2.
Achirnja Kuda—Sempana berdjalan menurut irama lang kah Kebo Sindet meninggalkan bukit gundul itu. Meninggal kau tempat jang tidak akan pernah dilupakannja.
Ketika kemudian mereka menuruni bukit gundul itu, terasa dada Kuda-Sempana mendjadi bergelora. Kemarin ia menuruni bukit ini pula bersama guru dan seorang saudara seperguruannja. Kini ia menuruni bukit itu bersama dua orang jang belum pernah dikenal sebelumnja.
Ber-hagai2 perasaan bergumul didalam hatinja. Kadang2 ia ingin melepaskan diri dari kedua orang itu, tetapi kadang2 apabila dilibatnja punggung Kebo Sindet, ingin ia menghun djamkan pedangaja kepunggung itu. Tetapi tiba2 disadarinja, bahwa dibelakangnja berdjalan ter-tatih2 Wong Sarimpat. Mes kipun orang itu tampaknja telah hampir mati, tetapi ia masih tjukup berbahaja. Apalagi baginja, jaag kini tidak memiliki ke kuatannja sepeaubnja.
Kuda-Sempana terkedjut ketika tiba2 ia melihat Kebo Sindet berhenti dan berpaling. Dari sela2 bibirnja jang beku terdengar orang itu berkata — He, Kuda-Sempana, apakah kau masih menggenggam pedang ditangan? Sarungkanlah. Se bentar lagi djalan akan mendjadi semakin sulit. Pedarg itu akan berbahaja bagimu. Apabi a kau terpeleset djatuh, maka mungkin sekali tadjam pedang itu akan menjobek kulitmu sen diri.
Kuda-Sempana memandangi wadjah Kebo Sindet dengan tadjamnja. Namun kemudian tanpa dikehendakinja sendiri, tangannja tergerak menjarungkan pedang itu pada wrangka dilambungnja.
— Bagus Hati’lah berdjalan. — berkata Kebo Sindet itu pula — Baru apabila kita bertemu dengan gerombolan andjing liar, mungkin kau perlukan pedangmu itu untuk menghalaunja.
Kuda-Sempana masih sadja berdiam diri. Ketika Kebo Sindet berdjalan kembali, maka Kuda-Sempanapun berdjalan pula lewat djalan setapak jang kemarin pernah dilaluinja pula. Ber-belit1 diantara batu2 padas jang mendjorok tadjam dan kadang2 se-akan2 menghadang ditengah djalan.
Ditempat inilah ia kemarin melihat Wong Sarimpat di bawah djalan ini, kemudian diatas punggung kuda berlari mendaki lereng jang tjuram ini. Kemarin ia masih mengagumi orang jang kasar jang disaagkanja terlampau djudjur itu. Tetapi ternjata orang itu telah membunuh guru dan saudara seperguruannja.
Kebo Sindet ternjata sengadja berdjalan per-lahan2 supaja Kuda-Sempana dan Wong Sarimpat jang terluka itu tidak tertinggal terlampau djauh. Namun demikian, mereka semakin lama mendjadi semakin dekat pula dengan gubug dilereng bukit gundul itu. Gubug jang berada dimulut goa.
Bulu kuduk Kuda-Sempana meremang ketika teringat kata2 Kebo Sindet, bahwa didalam goa itu terdapat banjak kerangka manusia. Siapa jang masuk kedalam goa itu, tidak akan dapat keluar kembali.
— Apakah aku akan dimasukkan keda’am goa itu pula F — berkata Kuda-Sempana didalam hatinja. Tetapi kemudian ditenangkannja hatinja sendiri. Apapun jang akan terdjadi akan dihadapinja, walau mati sekalipun. — Ini adalah akibat jang mungkin sekali terdjadi — katanja didalam hati pula —-kalau aku berhasil, sempurnalah hasilnja, kalau gagal, tebus annja maut.
Achirnja mereka berhenti djuga dimuka gubug Kebo Sindet. Dalam kegelapan Kuda—-Sempana masih dapat me ngenali gubug itu. Mulut gubug itu masih sadja merganga seperti pada saat Kuda—Sempana meninggalkannja. Dan ru angan dida’am gubug itupun masih sadja gelap pekat.
— Wong Sarimpat — berkata Kebo Sindet — buatlah api. Njalakan pelita. Apakah kau masih mempunjai minjak ?
~- Masih kakang — sahut Wong Sarimpat jang kemudian berdjalan memasuki gubugnja.
Kuda—Sempana merasa perbedaan penerimaan atas diri nja. Ketika ia datang bersama gurunja, maka se-olah2 kedua orang itu atjuh tak atjuh sadja. Tetapi kini terasa keduanja mendjadi terlampau baik terhadapnja.
Anak muda itu bukanlah anak muda jang terlampau dungu. Betapapun djuga ia dapat mengerti dan merasakan, bahwa ada sesuatu kepentingan atasnja dari kedua orang itu. Samar2 ia melihat kepada persoalan jang akan dibadapinja Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan memperalatnja.
Tetapi Kuda-Sempana sudah tidak akan dapat mele paskan diri lagi. Ia sekarang dan seterusnja pasti hanja akan mendjadi alat mati. Alat jang tidak dapat menentukan sikapnja sendiri. Namun ia tidak akan menerima nasib itu tanpa per lawanan. Ia harus mempergunakan otaknja, bukan tenaganja. Sebab ia pasti tidak akan mampu melawan keduanja. Bahkan satupun tidak meskipun sudah terluka.
Ketika lampu telah menjala, maka Kebo Sindet segera mempersilahkan Kuda-Sempana itu masuk kedalam Ketika mereka sudah duduk diatas amben jang kemarin mereka pa kai pula, terdengar Kebo Sindet berkata — Kuda — Sempana Lupakanlah gurumu dan saudara seperguruanmu. Tinggallah disini seperti dirumah sendiri. Aku dan Wong Sarimpat segera akan berusaha menjembuhkan luka2 kami. Da’am waktu jang singkat kami akan memenuhi permintaanmu. Menangkap Ma hisa Agni hidup2 bagi kami sama sekali bukan pekerdjaan jang sulit. Kami heran, kenapa gurumu tidak mampu mela kukannja apabila ia benar2 bermaksud menangkapnja. Karena itu, bagi kami gurumu merupakan penghalang terbesar. Bah kan aku mempunjai perhitungan bahwa gurumu sengadja akan mendjebak kami. Selain itu kami memang mempunjai per soalan jg. lama terpendam dengan gurumu. Lambat laun kau pasti akan mengetahuinja djuga.
Tiba? Kuda—Sempana meng-angguk2kan kepalanja Bah kaa kemudian ia bertanja — Apakah paman berkata sebenarnja?
Kebo Sindet memandang Kuda—Sempana dengan wa djahnja jang beku. Tetapi sorot matanja memantjarkan pera saan Jang aneh. Kenapa Kuda—Sempana mendjadi lunak hatinja dengan tiba2. Perubahan itu berlangsung terlampau tjepat. Namun Kebo Sindet tidak segera dapat menarik ke simpulan. Bahkan kemudian ia mendjawab — Tentu. Aku ber kata sebenarnja.
Kuda—Sempana terdiam sesaat. Ia ingin segera ber-pura’ bergembira mendengar djawaban itu, tetapi ia tidak dapat. Beruntunglah ia bahwa ia tidak mampu berbuat demikian karena kedjutan perasaan jang baru sadja dialami.
Kebo Sindet adalah seorang jang litjin. Ia akan mampu melihat perobahan jang tidak wadjar apabila Kuda-Sempana dengan tiba2 menjalakan sikapnja jang berlawanan dengan rkapnja sebelumnja. Namun karena Kuda-Sempana masih ditjengkam oleh perasaannja, maka djustru sikapnja itu telah menghilangkan ketjurigaan Kebo Sindet.
Sedjak saat itu Kuda—Sempana terpaksa tinggal dida lam gubug itu pula. Gubug Kebo Sindet. Betapa hatinja ingin melepaskan diri dari lingkungan jang sama sekali tidak di kehendaki itu, tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan. Setiap kali ia selalu berada diantara kedua orang liar itu atau salah seorang daripadanja.
Namun setelah beberapa hari Kuda—Sempana berada ditempat itu, sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sama sekali tidak berubah. Mereka masih bersikap baik dan ramah. Bahkan mereka agaknja sangat memperhatikan kebutuhannja.
Dalam beberapa hari itu Kuda—Sempana dapat menge tahui tjara hidup Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kedua mendapat makanan mereka dari orang2 Kemundungan. Mes kipun orang2 Kemundungan sendiri adalah orang2 miskin, namun Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan pernah merasa kekurangan. Mereka mendapat makanan mereka dalam dua bentuk. Makanan masak, jang tinggal menjuapkan sadja kedalam mulut, dan bahan1 mentah jang dikehendaki. Buah2 an, pala kependam dan pala gumantung. Kedua orang itu se¬olah1 mendjadi radja ketjil dalam pedukuhan jang terpentjil itu.
Didalam gubug Kebo Sindet memang terdapat mulut goa. Tetapi Kuda —Sempana sama sekali tidak berani mema suki goa itu. Setiap kali ia mendengar Kebo Sindet atau Wong Sarimpat berkata kepadanja. Setiap orang jang mentjoba masuk kedalnmnja, maka orang itu tidak akan pernah keluar lagi. Babkan selama itu, Kuda—Sempana belum pernah me libat Kebo Sindet atau Wong Sarimpat sendiri masuk keda
iamnja.
Jang diketahui oleh Kuda—Sempana dengan pasti, selama ini Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengobati diri mereka masing-masing. Ternjata Iuka2 jang mereka derita bukanlah luka2 jang ringan. Hanja karena tubuh2 mereka daja tahan jang luar biasa sadjalah, maka mereka tidak hantjur karenanja. Mereka bahkan masih tampak tetap segar.
koleksi ismoyo
(Bersambung)
kayanya sebelum sepasang naga di satu sarang ada panasnya bunga mekar…
Wah padepokan tambah rejo,rame. Monggo para kaki, para kadang, jejanggan, para putut manguyu, sami jagongan, menawi bade ngunjuk inggih sumonggo ngunjuk piyambak.
Nuwun.
ternyata blog untuk cantrik
mohon maaf, saya akan cari blog untuk santri
saya mendapat masalah dalam menginstall abbyy finereader.
setiap save as ke doc selalu hanya mendapatkan 1 halaman. padahal instalasi sudah dilakukan sesuai prosedur.
mohon pencerahannya ki, …. suwun.
Pengalaman yg sama Ki. Di saya, ternyata ABBYY nya masih trial. Yang artinya gagal mengikuti petunjuk Kang Guzi….
Adakah crack yg lebih simple ?
BUKU TAMU
Tulis Nama : Truno Podang
Alamat : Bekasi Timur
Tanda Tangan : Sret sret sret